• Tentang Hati
  • DESKRIPSI GAMBAR 4
Tampilkan postingan dengan label terbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terbaru. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Juli 2014

Sebab Sebab Turunnya Rezeki

usaha rezekiAkhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau rizki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta bermacam-macam tuntutannya. Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sebagian orang. Maka tak jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada Allah untuk mendapatkan uang atau alasan kebutuhan hidup.
Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu, Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.
Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:
-        Takwa Kepada Allah
Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)
Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.
Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”
Allah swt juga berfirman, artinya,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. 7:96)
- Istighfar dan Taubat
Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
“Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)
Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”
Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”
Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)
Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.
- Tawakkal Kepada Allah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65:3)
Nabi saw telah bersabda, artinya,
“Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)
Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.
- Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:
-Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
“Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)
-Sabda Nabi saw, artinya,
“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.
- Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”
Juga firman Allah yang lain,artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)
- Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)
Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.
- Berbuat Baik kepada Orang Lemah

Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya,
“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)
Dhu”afa” (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.
- Serius di dalam Beribadah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”
Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.
Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.
Al-Sofwah( Sumber: Kutaib “Al Asbab al Jalibah lir Rizqi”, al-qism al-ilmi Darul Wathan. )

Sumber :  http://www.eramuslim.com/hikmah/bisnis-jihad/sebab-sebab-turunnya-rezeki.htm#.U9HGJ_uK69g
READ MORE - Sebab Sebab Turunnya Rezeki
Sabtu, 11 Januari 2014

BAGAIMANA RASULULLAH BERMESRA DENGAN ISTERI


Sabda Rasulullah SAW: Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk melihat kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan meneladani perilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik perilaku terhadap isteri mahupun anak.
Dalam menggauli dan memperlakukan isteri-isteri Baginda, Rasulullah s.a.w. senantiasa menghormati dan menjaga perasaan isteri-isterinya melebihi suami-suami yang lainnya. Satu saat ketika Rasulullah hendak melaksanakan solat malam, beliau dekati isterinya Aisyah sampai Aisyah berkata: Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku beliau berbisik, “Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”
Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasulullah kepada isterinya sampai ketika beliau hendak melakukan solat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada isterinya pada tengah malam, di saat isterinya memerlukannya. Pada izin Rasulullah itulah tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap isterinya.
Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan isterinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang isterinya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah. Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berderai. Rasulullah hanya mengatakan, “Wahai Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama.”
Rasulullah mengecam suami-suami yang suka memukuli isteri-isterinya sampai Rasulullah berkata, “Aku hairan melihat suami-suami yang menyeksa isterinya padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah SWT.”
Nabi pun mengecam suami-suami yang menghinakan isteri-isterinya, tidak menghargainya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan isterinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, “Tidak akan pernah memuliakan isteri kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan isteri kecuali lelaki yang hina.” Kerana itu marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan isteri pada tempat yang mulia.
Kemesraan pasangan adalah penting untuk mengekalkan keharmonian rumahtangga dan Rasulullah s.a.w. telah mencontohkan kemesraan tersebut dengan isteri-isteri baginda.

Tidur dalam satu selimut bersama isteri
Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. dan Aisyah r.a. biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika baginda sedang berada dalam satu selimut dengan Aisyah, tiba-tiba Aisyah bangkit. Baginda kemudian bertanya, “Mengapa engkau bangkit?” Jawab Aisyah, “kerana saya haid, wahai Rasulullah.” Sabda Rasulullah, “Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali padaku.” Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (Hadis Riwayat Sa’id bin Manshur)
Memberi wangi-wangian pada aurat
Aisyah berkata, “sesungguhnya Nabi s.a.w. apabila meminyaki badannya, baginda akan memulai daripada auratnya menggunakan nurah (sejenis serbuk pewangi) dan isteri baginda meminyaki bahagian lain tubuh Rasulullah s.a.w. (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Meminta isteri meminyaki badan
Dari Aisyah r.a, beliau berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah s.a.w. pada hari Raya ‘Aidil Adha’ setelah beliau melakukan jumrah aqabah.” (Hadis Riwayat Ibnu ‘Asakir)
Mandi bersama isteri
Dari Aisyah r.a. beliau berkata, “Aku biasa mandi bersama Nabi s.a.w. menggunakan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana tersebut).” (Hadis riwayat Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)
Disikatkan oleh isteri
Dari Aisyah r.a, beliau berkata, “Saya biasa menyikat rambut Rasulullah s.a.w, ketika itu saya sedang haid.” (Hadis Riwayat Ahmad)
Rasulullah S.A.W. bersabda bermaksud: Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya lebih baik dari isteri itu mengerjakan haji dan umrah
Minum bergantian pada tempat yang sama
Daripada Aisyah r.a., dia berkata: “Saya biasa minum dari cawan yang sama walaupun ketika haid. Nabi mengambil cawan tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut, lalu Baginda minum, kemudian saya mengambil cawan tersebut dan lalu menghirup isinya, kemudian Baginda mengambilnya dari saya, lalu Baginda meletakkan mulutnya pada tempat saya letakkan mulut saya, lalu Baginda pun menghirupnya. ” (Hadis Riwayat Abdurrazaq dan Said bin Manshur)
Membelai isteri
“Adalah Rasulullah s.a.w. tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (isterinya) seorang demi seorang. Baginda menghampiri dan membelai kami tetapi tidak bersama sehingga Baginda singgah ke tempat isteri yang menjadi giliran Baginda, lalu Baginda bermalam ditempatnya. ” (Hadis Riwayat Ahmad)
Mencium isteri
Dari Aisyah r.a, “bahawa Rasulullah s.a.w. biasa mencium isterinya setelah mengambil wuduk, kemudian Baginda bersembahyang dan tidak mengulangi wuduknya.” (Hadis Riwayat Abdurrazaq)
Dari Hafshah, puteri Umar r.a., “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. biasa mencium isterinya sekalipun sedang berpuasa.” (Hadis Riwayat Ahmad).
Berbaring di pangkuan isteri
Dari Aisyah r.a., “Nabi s.a.w. biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haid, kemudian beliau membaca Al-Quran.” (Hadis Riwayat Abdurrazaq)
Memanggil dengan panggilan mesra
Rasulullah s.a.w. biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang di sukainya seperti Aisy dan Umairah (pipi merah delima).
Menyejukkan kemarahan isteri dengan mesra
Nabi s.a.w. biasa memicit hidung Aisyah jika dia marah dan Baginda berkata, “Wahai Uwaisy, bacalah doa: Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan. ” (Hadis Riwayat Ibnu Sunni)
Membersihkan titisan darah haid isteri
Dari Aisyah r.a., dia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah s.a.w. di atas satu tikar ketika aku sedang haid. Apabila darahku menitis di atas tikar itu, Baginda mencucinya pada bahagian yang terkena titisan darah dan baginda tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau sembahyang di tempat itu pula, lalu Baginda berbaring kembali di sisiku. Apabila darahku menitis lagi di atas tikar itu, Baginda mencuci pada bahagian yang terkena titisan darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudian baginda pun sembahyang di atas tikar itu.” (Hadis Riwayat Nasai)
Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamsh, ia berkata, “Ketika Nabi s.a.w. menikah dengan Ummu Salamah, Baginda bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengagak hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.” Dia (Ummu Kaltsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah s.a.w. dan hadiah tersebut dikembalikan kepada Baginda, lalu Baginda memberikannya kepada masing-masing isterinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut Baginda berikan kepada Ummu Salamah.” (Hadis Riwayat Ahmad)
Segera menemui isteri apabila tergoda
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi s.a.w. pernah melihat wanita, lalu Baginda masuk ke tempat kediaman Zainab, untuk melepaskan keinginan Baginda kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa syaitan. Apabila seseorang di antara kamu melihat wanita yang menarik, hendaklah ia mendatangi isterinya kerana pada diri isterinya ada hal yg sama dengan yang ada pada wanita itu.” (Hadis Riwayat Tirmizi)
Begitu indahnya kemesraan Rasulullah s.a.w. kepada para isteri Baginda, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan sikap kerana sikap dan perbuatan baik cara yang paling efektif menyatakan rasa cinta, kasih dan sayang antara suami dan isteri. Inilah teladan yg perlu dicontohi.
Berkhidmat pada isteri
Salah satu ibadah yang paling besar di dalam Islam adalah berkhidmat kepada isteri. Rasulullah bersabda, “Duduknya seorang lelaki dengan isterinya kemudian membahagiakan isterinya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di masjidku.”
Kita dapat saksikan para jemaah haji ketika tinggal selama seminggu di sana mereka berusaha melakukan itikaf dengan sebaik-baiknya di masjid Nabawi. Kita akan memperoleh pahala yang sama seperti itikafnya para jamaah haji kalau kita duduk bersama isteri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketenteraman dan keselesaan kepadanya.
Begitu pula bagi para isteri. Mereka haruslah menjadi seorang isteri seperti Khadijah Al-Kubra. Khadijah adalah sosok isteri yang sangat dicintai oleh suaminya. Selama Rasulullah menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan the other women beside her, wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan dan kasih sayang.
Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini: Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan Aisyah. Suatu hari Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan Aisyah menuju kepada seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapan-nya kemudian mengajaknya berbicara.
Sabda Rasulullah S.A.W. – Wanita apabila ia sembahyang lima waktu, puasa sebulan Ramadhan, memelihara kehormatan serta taat pada suami, maka masuklah mana-mana pintu syurga yang ia kehendaki.
Aisyah bertanya, “Siapakah perempuan tua ini?” Rasulullah menjawab, “Inilah sahabat Khadijah dulu.” Lalu Aisyah berkata, “Engkau sebut-sebut juga Khadijah padahal Allah telah menggantikannya dengan isteri yang lebih baik.”
Ketika itu marahlah Nabi sampai bergoncang rambut di atas kepalanya. Lalu beliau berkata, “Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang menghinaku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika isteri-isteri yang lain tidak memberikannya. ” Mendengar itu Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga Rasul berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah.”
Kepada para isteri, jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.
Kebaktian kepada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Sampai Rasulullah bersabda, “Kalau seorang perempuan memberikan setitis minum kepada suaminya atau memindahkan barang dari rumahnya ke tempat yang lain untuk membahagiakan suaminya, maka pahalanya sama dengan melakukan ibadah satu tahun.” Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Tuhan akan berkati keluarga yang seperti demikian.
APA KATA RASULULLAH TENTANG WANITA DAN ISTERI
1. Dunia ini ialah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan iaitu wanita (isteri) yang solehah.
(Riwayat Muslim)
2. Mana-mana perempuan yang memakai bau-bauan kemudian ia keluar melintasi kaum lelaki ajnabi, agar mereka mencium bau harumnya,maka iaa dalah perempuan zina, dan tiap-tiap mata yang memandang itu adalah zina. (Riwayat Ahmad,Thabrani dan Hakim)
3. Dikahwini wanita itu kerana empat perkara: kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka carilah yang kuat beragama, nescaya kamu beruntung.
4. Wanita apabila ia sembahyang lima waktu, puasa sebulan Ramadhan, memelihara kehormatan serta taat pada suami, maka masuklah mana-mana pintu syurga yang ia kehendaki. (RiwayatAhmad Ibnu Hibban, Thabrani, Anas bin Malik)
5. Perempuan yang melabuhkan pakaian dalam keadaan berhias bukan untuk suaminya dan muhrimnya adalah seumpama gelap gelita di hari khiamat, tiada nur baginya.(Riwayat Termizi)
6. Apabila lari seorang wanita dari rumah suaminya, tidak diterima sembahyangnya sehingga ia kembali dan menghulurkan tangan kepada suaminya (meminta maaf). (Riwayat dari Hassan)
7. Wanita yang taat pada suami, semua burung-burung diudara, ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya selama ia masih taat pada suaminya dan diredhainya serta menjaga sembahyang dan puasanya. (Riwayat Muaz bin Jabal)
8. Mana-mana wanita yang berdiri di atas kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api, maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka. Tiap-tiap wanita yang menolong suaminya di dalam urusan agama, maka Allah memasukkannya dalam syuga lebih dahulu dari suaminya (sepuluh ribu tahun) kerana dia memuliakan suaminya di dunia maka mendapat pakaian dan bau-bauan syurga untuk turun ke mahligai suaminya dan menghadapnya.
Ya Fatimah, jika seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan memotong misainya dan mengerat kukunya, memberi minum Allah akan dia sungai syurga, diiringi Allah baginya sakaratul maut dan akan didapati kubur menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga serta mencatatkan Allah baginya kelepasan dari neraka dan selamatlah ia melintasi titian Siratul-mustaqim. (Riwayat Muaz bin Jabal)
9. Mana-mana wanita yang berkata kepada suaminya “tidak pernah aku dapat dari engkau satu kebajikan pun”. Maka Allah akan hapuskan amalannya selama 70 tahun, walaupun ia berpuasa siang hari dan beribadah pada malam hari.
10. Apabila wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya, Allah mencatatkan baginya setiap hari seribu kebajikan dan menghapus baginya seribu kejahatan. Apabila wanita mulai sakit untuk bersalin, Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah. Apabila wanita melahirkan anak keluarlah dosa-dosa darinya seperti keadaan ibunya melahirkannya.
READ MORE -

Doa Sang Nabi SAW Untuk Ummatnya Senin, 26 September 20


11



قال رسول الله ِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّ نَبِيٍّ سَأَلَ سُؤْلًا أَوْ قَالَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ قَدْ دَعَا بِهَا فَاسْتُجِيبَ فَجَعَلْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Semua Nabi memohon permohonan, atau semua nabi mempunyai doa yang ketika mereka berdoa dikabulkan, maka kujadikan doaku adalah syafaat untuk ummatku di hari kiamat” (Shahih Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur , Yang mengangkat jiwa dan sanubari untuk mencapai keluhuran, Yang menyingkirkan sifat-sifat hina yang ada di dalam hati untuk menuju pada keindahan dan kasih sayang Allah, kerinduan dan kesucian Allah, menuju pada pengampunan Allah dan selalu asyik berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, lalu dibukakan rahasia kelezatan doa dan munajat sehingga hatinya bercahaya dengan ketenangan doa dan munajat, hatinya bercahaya dengan ketenangan sujud, bercahaya dengan ketenangan hidup, dan sanubarinya bercahaya dengan ketenangan dari meninggalkan dosa dan segala hal-hal yang dimurkai Allah subhanahu wata’ala, dan senantiasa ingin berada dalam keridhaan Allah.
Kita telah membaca hadits luhur, bagaimana nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan bahwa seluruh nabi mempunyai doa, dan setiap doa mereka telah dikabulkan, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menahan doanya untuk memberi syafaat kepada ummatnya di hari kiamat, syafaat untuk para pendosa, syafaat untuk orang-orang yang banyak melakukan maksiat kepada Allah, dan sungguh cinta beliau lebih dari cinta ayah bunda kepada anaknya, demikian dalam cinta sang nabi kepada ummatnya, karena orang-orang yang mencintai kita kelak di hari kiamat pastilah akan meninggalkan kita, seorang ayah dan ibu akan meninggalkan anaknya, suami dan istri akan saling berpisah di hari kiamat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ، وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ، وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
( عبس : 34-37 )
“ pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” ( QS. ‘Abasa : 34-37 )
Di saat itu kekasih akan berpisah dengan kekasihnya, namun sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mencari ummatnya dan para pendosa (dari ummatnya) untuk diberi syafaat, para shalihin diberi hak syafaat, para ahli surga akan ditambah derajatnya di surga, para ahli neraka disyafaati agar selamat dari neraka, inilah kekasih kita yang mencintai kita, yang membela kita, yang belum pernah kita berjumpa dan melihat wajahnya (saw), namun cinta beliau telah sampai kepada kita dan seluruh ummatnya hingga akhir zaman. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika saat-saat sakaratul maut sang nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam meminta siwak kepada sayyidah Aisyah Ra, kemudian beliau bersiwak lalu beliau merebah di pangkuan sayyidah Aisyah seraya berkata : “ Aku akan bertemu dengan Ar Rafiiq Al A’laa ( Allah )”. Sayyidah Aisyah berkata bahwa hembusan nafas terakhir sang nabi sampai ke tubuh beliau, adapaun diantara doa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut adalah :
اَللّهُمَّ شَدِّدْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
“ Ya Allah pedihkanlah sakaratul mautku dan ringankan untuk ummatku”
Dan iriwayatkan dalam kitab-kitab sirah (sejarah Nabi saw), yang diantaranya riwayat Al Imam Thabrani dan lainnya, dimana ketika sayyidina Mu’adz bin Jabal ra meninggalkan Madinah Al Munawwarah atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pergi ke Yaman, maka dalam keadaan antara tidur dan bangun ia mendengar suara : “ Wahai Mu’adz, bagaimana engkau bisa tidur dan tenang sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaaan sakaratul maut”, namun sayyidina Mu’adz menganggap itu adalah bisikan syaitan, maka beliau terus melanjutkan perjalanannya, hingga ketika beliau sampai di Yaman kembali lagi terdengar bisikan : “Wahai Mu’adz…!, bagaimana engkau bisa tidur dan tenang sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berada di dalam kubur”, maka sayyidina Mu’adz berbalik arah dengan kudanya dan berteriak seakan orang yang tidak sadarkan diri, beliau bingung apa yang harus diperbuat karena bisikan itu terus menghampirinya, padahal beliau telah diperintah untuk pergi dan telah tiba di Yaman. Akhirnya beliau kembali lagi ke Madinah Al Munawwarah untuk menenangkan hatinya, maka beliau pun kembali ke Madinah Al Munawwarah dan di tengah perjalanan beliau bertemu dengan utusan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, utusan itu membawa surat dari sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA yang telah diangkat menjadi khalifah ketika itu, kemudian beliau membaca surat itu yang berbunyi : “wahai Mu’adz, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”, maka sayyidina Mu’adz bin Jabal terdiam dan air mata pun mengalir dan berkata : “Siapa lagi yang akan peduli pada anak yatim dan kaum fuqara’ dan orang-orang yang susah jika Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”. Maka sayyidina Mu’adz melanjutkan perjalanannya ke Madinah Al Munawwarah dan menuju ke rumah sayyidah Aisyah Ra, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dimakamkan di rumah sayyidah Aisyah, maka ketika itu sayyidina Mu’adz bin Jabal mengetuk pintu rumah, dan sayyidina Mu’adz berkata : “ aku adalah Mu’adz bin Jabal dari kalangan Anshar yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pergi ke Yaman, dan aku tidak tau apa yang telah terjadi”, maka sayyidah Aisyah Ra berkata : “ Wahai Mu’adz bersyukurlah karena engkau tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut, karena jika kau melihat wajah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menahan pedihnya sakaratul maut beliau dan rasa sakaratul maut ummatnya shallallahu ‘alaihi wasallam maka sungguh engkau tidak akan bisa makan atau minum, bahkan engkau tidak akan bisa merasakan ketenangan hidup didunia hingga kau wafat”. Sungguh Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu untuk meringankan sakaratul maut untuk sang nabi, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sakit yang sangat pedih ketika sakaratul maut demi meringankan sakartul maut ummatnya sahallallahu ‘alaihi wasallam, maka rasa sakit dari setiap sakartul maut ummat beliau sebagian telah diringankan oleh sakitnya sakaratul maut yang dirasakan oleh sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
(hb Munzir tidak memperpanjang ceramah beliau sebab telah ceramah sebelum beliau Abuya KH Muhyiddin dari SUMEDANG, lalu diteruskan ceramah oleh Alhabib Salim bin Umar bin Hafidh dari Tarim Hadramaut)
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah menjauhkan kita dari segala musibah dengan keberkahan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga Allah memuliakan hari-hari kita dengan cinta kepada-Nya dan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga Allah menghadapkan langsung wajah kita dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , kemudian dihadapkan untuk memandang wajah Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:
أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِيْ
“ Aku adalah teman (sangat dekat dg) orang yang mengingat-Ku”
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
READ MORE - Doa Sang Nabi SAW Untuk Ummatnya Senin, 26 September 20
Jumat, 07 Juni 2013

Doa Sang Nabi SAW Untuk Ummatnya





قال رسول الله ِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّ نَبِيٍّ سَأَلَ سُؤْلًا أَوْ قَالَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ قَدْ دَعَا بِهَا فَاسْتُجِيبَ فَجَعَلْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Semua Nabi memohon permohonan, atau semua nabi mempunyai doa yang ketika mereka berdoa dikabulkan, maka kujadikan doaku adalah syafaat untuk ummatku di hari kiamat” (Shahih Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur , Yang mengangkat jiwa dan sanubari untuk mencapai keluhuran, Yang menyingkirkan sifat-sifat hina yang ada di dalam hati untuk menuju pada keindahan dan kasih sayang Allah, kerinduan dan kesucian Allah, menuju pada pengampunan Allah dan selalu asyik berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, lalu dibukakan rahasia kelezatan doa dan munajat sehingga hatinya bercahaya dengan ketenangan doa dan munajat, hatinya bercahaya dengan ketenangan sujud, bercahaya dengan ketenangan hidup, dan sanubarinya bercahaya dengan ketenangan dari meninggalkan dosa dan segala hal-hal yang dimurkai Allah subhanahu wata’ala, dan senantiasa ingin berada dalam keridhaan Allah.
Kita telah membaca hadits luhur, bagaimana nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan bahwa seluruh nabi mempunyai doa, dan setiap doa mereka telah dikabulkan, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menahan doanya untuk memberi syafaat kepada ummatnya di hari kiamat, syafaat untuk para pendosa, syafaat untuk orang-orang yang banyak melakukan maksiat kepada Allah, dan sungguh cinta beliau lebih dari cinta ayah bunda kepada anaknya, demikian dalam cinta sang nabi kepada ummatnya, karena orang-orang yang mencintai kita kelak di hari kiamat pastilah akan meninggalkan kita, seorang ayah dan ibu akan meninggalkan anaknya, suami dan istri akan saling berpisah di hari kiamat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ، وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ، وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
( عبس : 34-37 )
“ pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” ( QS. ‘Abasa : 34-37 )
Di saat itu kekasih akan berpisah dengan kekasihnya, namun sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mencari ummatnya dan para pendosa (dari ummatnya) untuk diberi syafaat, para shalihin diberi hak syafaat, para ahli surga akan ditambah derajatnya di surga, para ahli neraka disyafaati agar selamat dari neraka, inilah kekasih kita yang mencintai kita, yang membela kita, yang belum pernah kita berjumpa dan melihat wajahnya (saw), namun cinta beliau telah sampai kepada kita dan seluruh ummatnya hingga akhir zaman. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika saat-saat sakaratul maut sang nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam meminta siwak kepada sayyidah Aisyah Ra, kemudian beliau bersiwak lalu beliau merebah di pangkuan sayyidah Aisyah seraya berkata : “ Aku akan bertemu dengan Ar Rafiiq Al A’laa ( Allah )”. Sayyidah Aisyah berkata bahwa hembusan nafas terakhir sang nabi sampai ke tubuh beliau, adapaun diantara doa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut adalah :
اَللّهُمَّ شَدِّدْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
“ Ya Allah pedihkanlah sakaratul mautku dan ringankan untuk ummatku”
Dan iriwayatkan dalam kitab-kitab sirah (sejarah Nabi saw), yang diantaranya riwayat Al Imam Thabrani dan lainnya, dimana ketika sayyidina Mu’adz bin Jabal ra meninggalkan Madinah Al Munawwarah atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pergi ke Yaman, maka dalam keadaan antara tidur dan bangun ia mendengar suara : “ Wahai Mu’adz, bagaimana engkau bisa tidur dan tenang sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaaan sakaratul maut”, namun sayyidina Mu’adz menganggap itu adalah bisikan syaitan, maka beliau terus melanjutkan perjalanannya, hingga ketika beliau sampai di Yaman kembali lagi terdengar bisikan : “Wahai Mu’adz…!, bagaimana engkau bisa tidur dan tenang sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berada di dalam kubur”, maka sayyidina Mu’adz berbalik arah dengan kudanya dan berteriak seakan orang yang tidak sadarkan diri, beliau bingung apa yang harus diperbuat karena bisikan itu terus menghampirinya, padahal beliau telah diperintah untuk pergi dan telah tiba di Yaman. Akhirnya beliau kembali lagi ke Madinah Al Munawwarah untuk menenangkan hatinya, maka beliau pun kembali ke Madinah Al Munawwarah dan di tengah perjalanan beliau bertemu dengan utusan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, utusan itu membawa surat dari sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA yang telah diangkat menjadi khalifah ketika itu, kemudian beliau membaca surat itu yang berbunyi : “wahai Mu’adz, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”, maka sayyidina Mu’adz bin Jabal terdiam dan air mata pun mengalir dan berkata : “Siapa lagi yang akan peduli pada anak yatim dan kaum fuqara’ dan orang-orang yang susah jika Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”. Maka sayyidina Mu’adz melanjutkan perjalanannya ke Madinah Al Munawwarah dan menuju ke rumah sayyidah Aisyah Ra, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dimakamkan di rumah sayyidah Aisyah, maka ketika itu sayyidina Mu’adz bin Jabal mengetuk pintu rumah, dan sayyidina Mu’adz berkata : “ aku adalah Mu’adz bin Jabal dari kalangan Anshar yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pergi ke Yaman, dan aku tidak tau apa yang telah terjadi”, maka sayyidah Aisyah Ra berkata : “ Wahai Mu’adz bersyukurlah karena engkau tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut, karena jika kau melihat wajah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menahan pedihnya sakaratul maut beliau dan rasa sakaratul maut ummatnya shallallahu ‘alaihi wasallam maka sungguh engkau tidak akan bisa makan atau minum, bahkan engkau tidak akan bisa merasakan ketenangan hidup didunia hingga kau wafat”. Sungguh Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu untuk meringankan sakaratul maut untuk sang nabi, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sakit yang sangat pedih ketika sakaratul maut demi meringankan sakartul maut ummatnya sahallallahu ‘alaihi wasallam, maka rasa sakit dari setiap sakartul maut ummat beliau sebagian telah diringankan oleh sakitnya sakaratul maut yang dirasakan oleh sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
(hb Munzir tidak memperpanjang ceramah beliau sebab telah ceramah sebelum beliau Abuya KH Muhyiddin dari SUMEDANG, lalu diteruskan ceramah oleh Alhabib Salim bin Umar bin Hafidh dari Tarim Hadramaut)
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah menjauhkan kita dari segala musibah dengan keberkahan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga Allah memuliakan hari-hari kita dengan cinta kepada-Nya dan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga Allah menghadapkan langsung wajah kita dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , kemudian dihadapkan untuk memandang wajah Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:
أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِيْ
“ Aku adalah teman (sangat dekat dg) orang yang mengingat-Ku”
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
READ MORE - Doa Sang Nabi SAW Untuk Ummatnya

Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian XIV Makna Kalimat وَسَلِّمْ Senin, 13 Mei 2013






عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نَقُولُ التَّحِيَّةُ فِي الصَّلَاةِ وَنُسَمِّي وَيُسَلِّمُ بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَسَمِعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَإِنَّكُمْ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ فَقَدْ سَلَّمْتُمْ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ( صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan rahasia kemegahan dalam kerajaan alam semesta sebagai tanda kemuliaanNya, sebagai tanda keluhuranNya, sebagai tanda kesucian dan kewibawaanNya yang muncul pada semua yang ada di langit dan di bumi, di udara, di darat, di atas tanah atau di bawah tanah, yang tidak kesemua itu dapat dipelajari oleh manusia, namun setiap kali manusia mempelajari sebagian kecil dari kesemua itu maka pastilah mereka akan menemukan rahasia yang menakjubkan dalam setiap penciptaan itu. Dimana jika kita dapat mendengar pembicaraan sebutir sel dari jutaan ribu sel yang ada di tubuh kita, niscaya ia akan berkata kepada kita agar kita tidak mempergunakannya dalam perbuatan hina, dan meminta kita untuk mempergunakannya dalam melakukan sesuatu yang luhur.
Namun butiran-butiran sel yang tidak terlihat oleh mata itu tidak Allah perdengarkan ucapan-ucapannya kepada manusia, dan jika manusia mendengar pembicaraan semua butiran sel itu bahkan segala sesuatu yang ada di alam semesta, maka kesemuanya akan menasihati manusia agar meninggalkan kehinaan dan menuju apda keluhuran dan kemuliaan ,meninggalkan kehinaan menuju kesucian, meninggalkan kehinaan menuju budi pekerti yang luhur, menuju kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat, demikianlah tuntunan sang pembawa risalah kedamaian dan kelembutan, makhluk ciptaan Allah Yang paling ramah dan paling berlemah lembut, yang paling berkasih sayang, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia yang paling berlemah lembut kepada siapa pun, baik itu adalah teman atau musuhnya, baik itu adalah orang yang dikenalnya atau tidak dikenal olehnya, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun, dan segala sesuatu ciptaan Allah subhanahu wata’ala.
Sungguh tiada yang lebih bersifat lemah lembut kepada semua makhluk Allah melebihi sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala memberikan keluhuran kepada hamba-hambaNya, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaih wasallam dimana disebutkan bahwa iman terbagi ke dalam beberapa bagian, dan bagian yang terendah adalah imaathah al adzaa (menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang dari jalan), dan bagian iman yang tertinggi adalah Laa ilaaha illallah. Dimana kalimat luhur Laa ilaaha illallah jika ditimbang dengan semua alam semesta maka ia akan jauh lebih berat, karena kalimat tersebut menampung rahasia keagungan Sang Pencipta alam semesta dari tiada, Yang Maha menciptakan kefanaan dan Maha Menciptakan keabadian, Yang senantiasa menuntun manusia menuju keluhuran dengan perantara hamba-hambaNya yang luhur yang pemimpin mereka adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dapat kita lihat bahwa ibadah yang paling ringan dan mudah adalah yang hal itu merupakan bagian dari iman adalah menyingkirkan suatu hal yang berbahaya di jalan, yang dapat mengganggu orang yang melewatinya, maka perbuatan itu mendatangkan pahala bagi yang mengerjakannya.
Dari hal ini dapat kita fahami bagaimana rahasia kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hambaNya yang berpijar pada perbuatan yang seakan tidak ada artinya yaitu sekedar menyingkirkan sesuatu yang berbahaya di jalan, namun Allah subhanahu wata’ala memandang bahwa orang yang melakukan hal tersebut memiliki sifat yang luhur, sehingga Allah melimpahkan pahala baginya dan mengampuni dosanya. Maka perbuatan baik sekecil apapun mampu menghapus dosa seseorang dengan maaf Allah subhanahu wata’ala. Demikian rahasia kedermawanan Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui bahwa hamba-hambaNya adalah makhluk banyak berbuat dosa, karena jika manusia tidak ada yang berbuat dosa maka untuk apa Allah subhanahu wata’ala memiliki sifat pemaaf pada dzatNya, justru Allah subhanahu wata’ala memilki sifat pemaaf karena Allah mengetahui bahwa manusia selalu berbuat dosa. Namun berbeda antara maaf dari Allah subhanahu wata’ala dan maaf dari makhluk, dimana perbuatan maaf dari makhluk terbatas, sedangkan maaf dari Allah subhanahu wata’ala tidak ada batas dan tidak ada yang menandinginya. Jika seseorang berbuat salah kepada orang lain, maka ia akan segera menjauh darinya untuk menghidari kemurkaannya, namun untuk menghindari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala bukanlah dengan menjauh dariNya akan tetapi dengan mendekat kepadaNya, dimana Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mampu untuk murka kepada hamba yang berbuat dosa justru Allah berlemah lembut kepada hamba yang berhak mendapat murka Allah, namun ia ingin mendekat kepadaNya. Dimana Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ( البقرة : 186 )
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. ( QS. Al Baqarah : 186 )
Dan firmanNya :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ( الزمر : 53 )
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Az Zumar : 53 )
Sang Maha Mencintai dan Maha lemah lembut adalah Allah subhanahu wata’ala, tiada yang lebih berlemah lebut dan berkasih sayang melebihi Allah subhanahu wata’ala, dan Allah yang menciptakan sifat lemah lembut dan kasih sayang pada makhluk. Maka ketika seseorang telah memahami bahwa cara untuk menghindar dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala adalah dengan mendekat kepadaNya, karena kita selalu berbuat kesalahan, dimana mungkin kita sering mebicarakan keburukan atau aib orang lain, atau menghina orang lain dan perbuatan dosa yang lainnya, maka mendekatlah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan memperbanyak ibadah, baik berupa shalat, shadaqah, ibadah haji atau umrah dan lainnya, bahkan hanya sekedar dengan senyum kepada saudara seiman,
Disebutkan oleh guru mulia kita Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Hafizh dalam kitab Is’aaf Thaalibii Ridhaa Al Khallaq, beliau menukil salah satu hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa menggembirakan saudara seiman adalah lebih baik daripada beri’tikaf selama 20 tahun di masjid An Nabawi di Madinah Al Munawwarah, karena Allah subhanahu wata’ala menyukai hati hamba yang mempunyai sifat baik kepada makhluk yang lainnya, Allah mencintai hamba-hamba yang memiliki sifat-sifat baik, dan semakin seorang hamba memiliki sifat-sifat baik maka Allah subhanahu wata’ala akan semakin mencintai mereka. Sehingga yang layak kita fahami dari hadits yang tadi kita baca adalah agungnya rahasia kesejahteraan (As salaam) yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita untuk membacanya setiap selesai melakukan shalat bagi yang telah diberi taufiq oleh Allah subhanahu wata’ala dalam melakukan shalat, yaitu dengan mengetahui tata cara melakukan shalat dengan benar. Sehingga dalam hal ini As salam, Allah menjadikannya sebagai rukun (fardhu) di dalam shalat. Sebagaimana sayyidina Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Dahulu kami saling bersalam dan mendoakan kesejahteraan untuk sesama di dalam shalat, namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar hal itu dan beliau berkata dan memrintahkan kami untuk mengucapkan:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Segala penghormatan hanya milik Allah, dan juga segala shalat dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang hak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”
Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fath Al Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa yang dimaksud hamba-hamba Allah yang shalih adalah mereka adalah para malaikat dan para nabi sebelum kita serta orang-orang shalih yang hidup sebelum kita. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang telah mengucapkan hal tersebut maka sungguh ia telah bersalam (mendoakan kesejahteraan) untuk semua hamba Allah yang shalih yang ada di langit dan bumi, mereka dari golongan malaikat yang di langit atau manusia dan jin yang di bumi. Sehingga kelak di akhirat mereka akan saling bertemu dan saling berterimakasih meskipun sebelumnya di dunia mereka tidak salig mengenal satu sama lain, karena Allah telah menyampaikan salam mereka ketika mereka ucapkan di waktu shalat, sehingga hubungan ruh dan hati tersambung, baik mereka yang kita kenal atau yang tidak kita kenal, baik yang hidupa sezaman dengan kita atau yang tidak sezaman dengan kita, baik mereka adalah dari golongan manusia atau bukan dari golongan manusia. Maka dengan salam tersebut Allah subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai rantai mutiara yang kuat yang tidak bisa dilepas dan dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga seseorang yang melakukan shalat maka ia telah menyambung hubungan baik dengan hamba-hamba yang shalih dengan salam yang mereka ucapkan di saat tasyahhud. Yang mana hal itu akan menjadikan hubungan mereka kelak akrab diantara satu dan lainnya, sebagaimana seseorang yang selalu mendoakan kebaikan untuk orang lain lima kali dalam sehari namun mereka belum pernah mengenal dan belum pernah berjumpa satu sama lain, dan setelah beberapa lama kemudian mereka bertemu, dan orang yang didoakan tersebut mendapat kabar bahwa orang tersebut selalu mendoakan kebaikan untuknya, maka pastilah orang tersebut akan sangat berterima kasih kepadanya dan memberikan sambutan yang sangat baik untuknya. Inilah ikatan kuat yang disambungkan dengan hati atau ruh diantara sesama hamba Allah yang tidak saling mengenal sebelumnya.
Adapun bersalam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tasyahhud hal itu adalah menyambung hubungan ruh dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam minimal 9 kali dalam sehari dalam shalat wajib 5 waktu, dan minimal 9 kali juga kita mendoakan kesejahteraan untuk sesame hamba Allah yang shalih, dan tanpa kita sadari kelak kita akan bertemu dengan mereka dan sekelompok dengan mereka, demikian luhurnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian penjelasan ringkas dari kalimat وَسَلِّمْ dalam kitab Ar Risalah Al Jaami’ah.
Kalimat Salaam secara bahasa bermakna kesejahteraan atau keamanan. Adapun dalam istilah kalimat Salaam adalah keamanan atau perlindungan dari segala hal yang mencelakakan, maka ketika seseorang mengucapkan salam berarti ia telah mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk orang lain. Tuntunan kita dalam Islam adalah kedamaian dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan semua para nabi adalah pembawa kedamaian, mereka bukanlah orang yang bengis atau penguasa yang jahat, meskipun banyak orang yang salah faham bahkan kaum muslimin sendiri banyak yang terjebak dalam pemahaman sesat yang mengatakan bahwa nabi adalah orang yang keras dan bengis, maka sungguh hal tersebut adalah kekeliruan yang sangat besar yang sebagian orang ketahui dari buku-buku sejarah yang diterjemahkan. Dalam masalah ketegasan maka tidak ada yang lebih tegas dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga dengan keberanian maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orang yang pengecut, namun kesemua itu tertutupi oleh sifat lemah lembut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana kita ketahui dari kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diantaranya adalah ketika seseorang berkumpul (berjima’) dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan, yang mana hal itu adalah termasuk dosa besar yang dapat menghapus dosa tersebut diantaranya adalah dengan berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Kemudian orang tersebut datang kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Sungguh celaka aku, dan aku akan masuk ke dalam api neraka”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Apa yang membuatmu berkata demikian?”, ia berkata : “Aku telah berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan maka pastilah aku akan celaka dan masuk neraka”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Berpuasalah selama 2 bulan berturut-turut”, maka orang itu berkata : “Wahai Rasulullah, aku adalah pekerja berat (kuli) sungguh aku tidak mampu untuk melakukan puasa selama 2 bulan berturut-turut”, lalu Rasulullah memerintahnya untuk memberi makan 60 orang miskin, dan ia pun kembali berkata : “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang sangat miskin jangankan untuk memberi makan 60 orang miskin, untuk memberi makan keluargaku saja aku masih belum mampu mencukupinya”, dan apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?, padahal hukum sudah jelas mengatakan bahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan maka ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin, dan tentunya orang yang paling tegas terhadap hukum syariat Islam adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau lah pemimpin para muslimin. Namun karena sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat berlemah lembut, sehingga ketika mendapati orang tersebut tidak mampu melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam rumah beliau dan mengelurakan sekitar setengah karung kurma dan berkata kepada orang tersebut : “ Berikanlah kurma ini kepada orang yang paling miskin di Madinah Al Munawwarah”, lihatlah kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana orang lain yang berbuat dosa namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menebusnya. Kemudian orang tersebut berkata : “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akulah orang ynag paling miskin di Madinah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jika demikian maka kurma itu untukmu”, demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi hukum perlu kebijaksanaan, dan jangan kita memandang setiap hukum dari satu pihak dan langsung memutuskannya, namun semua itu harus kita ketahui bagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana ketika seseorang datang kepada sayyidina Umar bin Khattab Ra dan berkata : “Wahai Khalifah Umar, seorang tetanggaku telah mencuri maka potonglah tangannya”, sayyidina Umar berkata : “Apakah betul engkau telah mencuri dari rumah tetanggamu”, orang tersebut berkata : “Iya betul aku telah mencuri”, lantas sayyidina Umar berkata : “Apa yang membuatmu berbuat hal itu?”, maka orang itu menjawab : “Aku sangat merasa lapar dan tidak lagi mampu menahannya”, lantas sayyidina Umar berkata : “Jika demikian maka engkau (yang dicuri) yang akan diberi hukuman”, maka orang yang dicuri menolak dan berkata : “Wahai khalifah mengapa justru aku yang akan dihukum, sedangkan dialah yang telah mencuri dari rumahku”, maka sayydina Umar bin khattab RA berkata : “Iya karena engkau tidak mengetahui bahwa tetanggamu kelaparan, sehingga engkau telah menterlantarkannya”, demikian kebijakan para sahabat dalam menjalankan hukum syariat Islam.
Oleh sebab itu kita harus memahami dan mendalami semampu kita perbuatan-perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mudah tertipu dengan kejadian-kejadian yang sering kita temui dalam kehidupan kita, yang diantara mereka melakukan bom bunuh diri dimana hal ini merupakan perbuatan yang mengakibatkan pelukunya murtad dan jelas-jelas telah dilarang dalam syariat Islam, sehingga tidak ada satu madzhab pun yang memperbolehkan bom bunuh diri. Sebagaimana beberapa macam hal pembunuhan dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alahihi wasallam seperti dilarang membunuh anak-anak, dilarang membunuh wanita, dilarang membunuh orang yang tidak bersenjata, dilarang membunuh orang yang tidak menyerang, namun kesemua larangan itu dilanggar dengan seseorang melakukan bom bunuh diri, yang mungkin mereka menganggap hal tersebut adalah sebuah keberanian, justru hal tersebut adalah sifat pengecut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengahadiri perang sebanyak 27 kali semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau tidak pernah memulai peperangan tersebut kecuali kelompok musuh lah yang memulai menyerang Islam, dan ketika terjadi perang pun maka beliau memerintah ummat Islam dalam peperangan tersebut diantaranya untuk tidak memukul atau membunuh wanita dan anak-anak, tidak pula memukul bagian wajah, tidak menyerang orang yang tidak bersenjata. Sebagaimana dalam perang Hunain ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar bahwa para musuh telah berkumpul untuk menyerang Madinah Al Munawwarah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar bersama kaum muslimin sebelum mereka sampai ke Madinah Al Munawwarah, dan ketika dalam peperangan para musuh mulai menyerang dari sela-sela, sehingga kaum muslimin bercerai-berai dan bukan karena takut namun karena mereka kebingungan menghadapi serangan musuh berupa anak panah, tombak dan lainnya yang berasal dari segala penjuru, maka melihat keadaan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung memacu kuda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengarah kepada musuh dan berkata :
أنَا النبيُّ لاَ كَذِبْ أنَا ابْنُ عَبْدِ المُطَّلِب “
Aku adalah seorang nabi dan bukan suatu kebohongan, aku adalah cucu Abdul Mutthallib”. Para sahabat menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk maju karena khawatir terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan-serangan musuh. Demikian keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau juga bersifat lemah lembut dan berkasih sayang. Ketika perang Badr Al Kubra telah selesai, dimana ketika itu jumlah kaum muslimin 313 dan jumlah kaum kuffar adalah 3000 namun demikian kemenangan ada pada kaum muslimin, karena kaum muslimin adalah orang-orang yang penyabar, yang mana kemarahan orang yang penyabar sangat berbeda dengan orang yang pemarah, dimana orang yang penyabar ketika marah maka ia marah dengan kekuatan Allah subhanahu wata’ala, sehingga jumlah pasukan muslimin sebanyak 313 mampu mengalahkan kaum kuffar, sehingga sebagian dari kaum kuffar mundur dan sebagian yang lain tertangkap, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat : “Mereka adalah orang sekampung kita, apakah kalian akan menangkap orang yang sekampung dengan kita?!”, indahnya budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berpijar dalam setiap waktu dan zaman dari generasi ke generasi, dari guru ke guru, dari para penuntun keluhuran. Dan di saat ini kita berada pada bulan yang mengingatkan kita pada anugerah besar yang diberikan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu bulan Rajab yang di bulan inilah diturunkannya perintah shalat ketika peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tanggal 27 Rajab.
Hadirin yang dimuliakan Allah Selanjutnya kita bermunajat dan bedoa kepada Allah subhanahu wata’ala semoga acara akbar malam Isra’ Mi’raj di Monas dengan disertai dzikir Ya Allah sebanyak 1000 x semoga berlangsung sukses zhahir dan bathin. Telah disampaikan kabar tentang acara ini kepada guru mulia Al Habib Umar bin Hafizh dan beliau bersedia untuk memberi sambutan lewat streaming dari Tarim Hadramaut insyaallah. Kita berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni seluruh dosa kita dan dosa kedua orang tua kita, dan semoga Allah melimpahkan tuntunan hidayah dan tuntunan kebenaran bagi mereka yang berada dalam kerusakan aqidah atau ketidakfahaman dalam menjalankan syariat yang sebagaimana mestinya, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ( البقرة : 185 )
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. ( QS. Al Baqarah : 185 )
Allah subhanahu wata’ala senantiasa memberikan yang mudah untuk hamba-hambaNya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidah Aisyah Ra berkata bahwa jika dipilihkan kepada Rasulullah dua hal maka pastilah beliau akan memilih yang paling mudah untuk ummatnya, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
يَسِّروا ولا تُعَسِّروا ، وبَشِّروا ولا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah jangan mempersulit, berilah kabar gembira jangan menakut-nakuti”
Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu membimbing masa depan kita dan melimpahkan kebahagiaan kepada kita di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
READ MORE - Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian XIV Makna Kalimat وَسَلِّمْ Senin, 13 Mei 2013
Sabtu, 18 Mei 2013

Kebangkitan Sunnah


Dimasa mulai redupnya cahaya syariah maka para pembela sunnah segera memperbaharuinya, sebagaimana ketika wafatnya Rasulullah saw dan Mahkota Dakwah pada Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, mulailah terjadi hal-hal yang mesti dimunculkan yang sebelumnya belum pernah dilakukan, Khalifah Abubakar Asshiddiq ra memerangi muslimin yang tak mau mengeluarkan zakat, sebagaimana sabda Nabi saw bahwa aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah, melakukan shalat, mengeluarkan zakat, bila mereka melakukan itu maka amanlah darah mereka dariku dan harta mereka, dan perhitungan mereka atas Allah swt (shahih Bukhari dan Muslim). Rasul saw belum pernah memerangi orang muslimin dimasa hidupnya, namun dengan hadits ini Khalifah Abubakar Shiddiq ra beristinbat dan memerangi kaum muslimin yang tak mau berzakat, maka Khilafah islamiyah selamat dari kehancuran,
Kemudian terjadilah pembantaian pada Ahlul Yamamah, yaitu para sahabat yang hafal alqur'an, maka berkata Umar bin Khattab ra agar Alqur'an ditulis dan dikumpulkan dalam satu jilid, maka Abubakar ra berkata : Bagaimana aku berbuat hal yang tak pernah diperbuat oleh Rasulullah saw?,(tak pernah ada hadits atau ayat yang memerintahkan untuk membukukan Alqur'an dalam satu kitab sebagaimana sekarang, Alqur'an masih bertebaran di hafalan sahabat, tertulis di tembok-tembok dan di kulit onta), namun Umar ra terus membujuknya demi maslahat muslimin, akhirnya Khalifah Abubakar ra setuju dan ia memerintahkan Zeyd bin tsabit ra untuk mulai menulis dan menjilid Alqur'an (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Penulisan Alqur'an dan penjilidannya diresmikan dimasa Khilafah Usman bin Affan ra, hingga kini Mushaf Al Qur'an disebut Mush haf Utsmaniy.
Di zaman Umar bin Khattab ra ia mengeluarkan fatwa shalat tarawih berjamaah, dan ini tak pernah diperintahkan di zaman Rasul saw, walaupun pernah diberlakukan namun kemudian dibubarkan dan tak pernah diperintahkan Rasul saw untuk dilakukan kembali, dan tak pernah dilakukan lagi hingga beliau saw wafat, baru dimasa Umar ra shalat tarawih dilakukan berjamaah, seraya berkata : "inilah sebaik baik bid'ah" (shahih Bukhari hadits no.1906). Khalifah Usman bin Affan ra merubah Adzan pada shalat jumat menjadi dua adzan, maslahat bagi muslimin karena muslimin mulai berdatangan dari tempat yang jauh, dan hal itu tak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, dan dimasa khalifah-khalifah sebelumnya.
Kemudian selesai masa Muhajirin dan Anshar, wafatlah para sahabat radhiyallahu'anhum, wafatlah kesemua wajah mulia yang menyaksikan hadits dan turunnya ayat, maka mulailah para Tabi'-Tabi'in risau hadits-hadits Rasul saw akan dilupakan, atau dipalsukan, maka mereka mulai menulis hadits-hadits itu, serta mulai mentashihkan hadits dengan Ilmu Musthalahul Hadits, yang sebelumnya tak pernah diperintahkan oleh rasul saw untuk memilah-milah hadits beliau saw, namun hal ini diada-adakan oleh para Ulama demi terjaganya syariah Islamiyah dan Sunnah Nabawiyyah. Kemudian mulailah timbul Ikhtilaf dalam pemahaman hadits dan ayat, maka demi menyelamatkan ummat terbentuklah Madzhab, agar muslimin bisa berpedoman pada satu Imam dalam pengamalan Ibadahnya.
Kemudian mulai redup pula lah semangat ummat untuk perduli pada sunnah, semakin banyak orang yang meninggalkan shalat, semakin banyak orang yang hanya berfikir dunia dan dunia, maka barat dan timur dipenuhi Fasad dan kedhaliman, maka para pejuang sunnah mulai mencari cara untuk Kebangkitan sunnah dan Medan Dakwah Akbar yang dapat memadukan muslimin dalam satu perkumpulan, demi silaturahmi, demi mereka mendengarkan Tabligh dan demi bangkitnya semangat baru, namun kebangkitan semangat ini butuh lambang pembangkitnya, bukan Ramadhan, bukan idulfitri, bukan idul adha, karena hari-hari itu sudah umum, maka mereka mengambil kesimpulan bahwa simbol kebangkitan Ummat adalah hari kelahiran Rasul saw, hari mulia yang mengawali kebangkitan Risalah, karena Rabi'ul awwal bukan hanya bulan kelahiran nabi saw, namun juga bulan Hijrahnya Rasul saw ke Madinah, sebagaimana dijelaskan dalam semua buku sejarah bahwa Hijrah Rasul saw bukanlah pada bulam Muharram, namun Umar bin Khattab ra memulai penanggalan Hijriah pada 1 Muharram karena di bulan itulah sahabat mulai berhijrah ke Madinah, namun Hijrah Rasul saw adalah pada Rabiul awal, maka dibulan itu pula wafatnya Rasul saw.
Kejadian-kejadian agung yang merupakan kebangkitan risalah kesemuanya berpadu pada hari kelahiran Rasul saw, yaitu kelahiran beliau adalah lambang seluruh kebangkitan islam, lalu hari hijrah beliau saw yang merupakan lambang semangat tersuci dalam islam, yaitu berpadunya semangat Muhajirin yang meninggalkan kampung halamannya yang tercinta ke negeri asing, dan semangat Anshar yang menerima tamu-tamu asing untuk dibagi dua harta mereka, dan rumah mereka. Dua semangat agung dari penegak Risalah ini berpadu pada hijrah Rasul saw yaitu yang juga pada senin 12 Rabiul awwal. Kemudian hari wafatnya Rasul saw yang juga pada senin 12 Rabiul awwal, saya menamakan hari wafatnya Rasul saw adalah hari kebangkitan semangat terdahsyat setelah wafatnya Rasul saw yg mana para sahabat berpecah belah dan putus asa, Namun di hari 12 Rabiul awal saat jenazah rasul saw masih terbujur, maka bangkitlah Da'I Agung, Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra yang berpidato membangkitkan semangat muhajirin dan anshar agar tak putus asa, maka bangkitlah semangat mereka.

Tiga kejadian besar berpadu pada 12 Rabiul awwal, yaitu Kelahiran sang Nabi saw yang mengawali kebangkitan Risalah, peristiwa Hijrah yang mengawali penyebaran risalah dan kekuasaan Islam, dan peristiwa wafatnya Rasul saw yang melambangkan kebangkitan semangat para sahabat untuk terus berjuang dan setia pada perjuangan Nabi mereka. Maka para pembesar ulama mengambil munasabah 12 Rabiul awal dengan perayaan, Medan Tabligh, Medan pembangkit semangat muslimin, untuk kembali pada Panji Rasulullah saw, nama beliau saw di elu-elukan, dipuji, dimuliakan, sejarahnya dibacakan, kesemuanya demi menyemangati muslimin agar kembali beridolakan Sang Nabi saw sebagaimana para sahabat radhiyallahu'anhum. Maka hal ini berhasil, Medan Dakwah dan Tabligh terbesar didunia sepanjang tahun adalah pada Rabiul awal, tak ada medan dakwah terbesar didunia melebihi perayaan hari kelahiran Rasul saw, dimana hampir setiap masjid, majelis taklim, musholla, bahkan perkantoran, sekolah, bahkan rumah-rumah masyarakat, dipenuhi dengan kesibukan merayakan Maulid Nabi saw, merupakan adat istiadat agung yang diajarkan para salfussholeh demi bangkitnya cinta ummat ini pada Nabi mereka,
Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 08 March 2007 )
READ MORE - Kebangkitan Sunnah
Template oleh Blog SEO Ricky - Support eva fashion store