• Tentang Hati
  • DESKRIPSI GAMBAR 4
Jumat, 07 Juni 2013

Doa Sang Nabi SAW Untuk Ummatnya





قال رسول الله ِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّ نَبِيٍّ سَأَلَ سُؤْلًا أَوْ قَالَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ قَدْ دَعَا بِهَا فَاسْتُجِيبَ فَجَعَلْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Semua Nabi memohon permohonan, atau semua nabi mempunyai doa yang ketika mereka berdoa dikabulkan, maka kujadikan doaku adalah syafaat untuk ummatku di hari kiamat” (Shahih Bukhari)
ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur , Yang mengangkat jiwa dan sanubari untuk mencapai keluhuran, Yang menyingkirkan sifat-sifat hina yang ada di dalam hati untuk menuju pada keindahan dan kasih sayang Allah, kerinduan dan kesucian Allah, menuju pada pengampunan Allah dan selalu asyik berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, lalu dibukakan rahasia kelezatan doa dan munajat sehingga hatinya bercahaya dengan ketenangan doa dan munajat, hatinya bercahaya dengan ketenangan sujud, bercahaya dengan ketenangan hidup, dan sanubarinya bercahaya dengan ketenangan dari meninggalkan dosa dan segala hal-hal yang dimurkai Allah subhanahu wata’ala, dan senantiasa ingin berada dalam keridhaan Allah.
Kita telah membaca hadits luhur, bagaimana nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan bahwa seluruh nabi mempunyai doa, dan setiap doa mereka telah dikabulkan, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menahan doanya untuk memberi syafaat kepada ummatnya di hari kiamat, syafaat untuk para pendosa, syafaat untuk orang-orang yang banyak melakukan maksiat kepada Allah, dan sungguh cinta beliau lebih dari cinta ayah bunda kepada anaknya, demikian dalam cinta sang nabi kepada ummatnya, karena orang-orang yang mencintai kita kelak di hari kiamat pastilah akan meninggalkan kita, seorang ayah dan ibu akan meninggalkan anaknya, suami dan istri akan saling berpisah di hari kiamat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ، وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ، وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
( عبس : 34-37 )
“ pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” ( QS. ‘Abasa : 34-37 )
Di saat itu kekasih akan berpisah dengan kekasihnya, namun sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mencari ummatnya dan para pendosa (dari ummatnya) untuk diberi syafaat, para shalihin diberi hak syafaat, para ahli surga akan ditambah derajatnya di surga, para ahli neraka disyafaati agar selamat dari neraka, inilah kekasih kita yang mencintai kita, yang membela kita, yang belum pernah kita berjumpa dan melihat wajahnya (saw), namun cinta beliau telah sampai kepada kita dan seluruh ummatnya hingga akhir zaman. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika saat-saat sakaratul maut sang nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam meminta siwak kepada sayyidah Aisyah Ra, kemudian beliau bersiwak lalu beliau merebah di pangkuan sayyidah Aisyah seraya berkata : “ Aku akan bertemu dengan Ar Rafiiq Al A’laa ( Allah )”. Sayyidah Aisyah berkata bahwa hembusan nafas terakhir sang nabi sampai ke tubuh beliau, adapaun diantara doa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut adalah :
اَللّهُمَّ شَدِّدْ عَلَيَّ مَوْتِيْ وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ
“ Ya Allah pedihkanlah sakaratul mautku dan ringankan untuk ummatku”
Dan iriwayatkan dalam kitab-kitab sirah (sejarah Nabi saw), yang diantaranya riwayat Al Imam Thabrani dan lainnya, dimana ketika sayyidina Mu’adz bin Jabal ra meninggalkan Madinah Al Munawwarah atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pergi ke Yaman, maka dalam keadaan antara tidur dan bangun ia mendengar suara : “ Wahai Mu’adz, bagaimana engkau bisa tidur dan tenang sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaaan sakaratul maut”, namun sayyidina Mu’adz menganggap itu adalah bisikan syaitan, maka beliau terus melanjutkan perjalanannya, hingga ketika beliau sampai di Yaman kembali lagi terdengar bisikan : “Wahai Mu’adz…!, bagaimana engkau bisa tidur dan tenang sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berada di dalam kubur”, maka sayyidina Mu’adz berbalik arah dengan kudanya dan berteriak seakan orang yang tidak sadarkan diri, beliau bingung apa yang harus diperbuat karena bisikan itu terus menghampirinya, padahal beliau telah diperintah untuk pergi dan telah tiba di Yaman. Akhirnya beliau kembali lagi ke Madinah Al Munawwarah untuk menenangkan hatinya, maka beliau pun kembali ke Madinah Al Munawwarah dan di tengah perjalanan beliau bertemu dengan utusan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA, utusan itu membawa surat dari sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA yang telah diangkat menjadi khalifah ketika itu, kemudian beliau membaca surat itu yang berbunyi : “wahai Mu’adz, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”, maka sayyidina Mu’adz bin Jabal terdiam dan air mata pun mengalir dan berkata : “Siapa lagi yang akan peduli pada anak yatim dan kaum fuqara’ dan orang-orang yang susah jika Rasulullah shallallahu shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”. Maka sayyidina Mu’adz melanjutkan perjalanannya ke Madinah Al Munawwarah dan menuju ke rumah sayyidah Aisyah Ra, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dimakamkan di rumah sayyidah Aisyah, maka ketika itu sayyidina Mu’adz bin Jabal mengetuk pintu rumah, dan sayyidina Mu’adz berkata : “ aku adalah Mu’adz bin Jabal dari kalangan Anshar yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pergi ke Yaman, dan aku tidak tau apa yang telah terjadi”, maka sayyidah Aisyah Ra berkata : “ Wahai Mu’adz bersyukurlah karena engkau tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat sakaratul maut, karena jika kau melihat wajah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menahan pedihnya sakaratul maut beliau dan rasa sakaratul maut ummatnya shallallahu ‘alaihi wasallam maka sungguh engkau tidak akan bisa makan atau minum, bahkan engkau tidak akan bisa merasakan ketenangan hidup didunia hingga kau wafat”. Sungguh Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu untuk meringankan sakaratul maut untuk sang nabi, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sakit yang sangat pedih ketika sakaratul maut demi meringankan sakartul maut ummatnya sahallallahu ‘alaihi wasallam, maka rasa sakit dari setiap sakartul maut ummat beliau sebagian telah diringankan oleh sakitnya sakaratul maut yang dirasakan oleh sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
(hb Munzir tidak memperpanjang ceramah beliau sebab telah ceramah sebelum beliau Abuya KH Muhyiddin dari SUMEDANG, lalu diteruskan ceramah oleh Alhabib Salim bin Umar bin Hafidh dari Tarim Hadramaut)
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah menjauhkan kita dari segala musibah dengan keberkahan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga Allah memuliakan hari-hari kita dengan cinta kepada-Nya dan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga Allah menghadapkan langsung wajah kita dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , kemudian dihadapkan untuk memandang wajah Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:
أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِيْ
“ Aku adalah teman (sangat dekat dg) orang yang mengingat-Ku”
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
READ MORE - Doa Sang Nabi SAW Untuk Ummatnya

Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian XIV Makna Kalimat وَسَلِّمْ Senin, 13 Mei 2013






عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نَقُولُ التَّحِيَّةُ فِي الصَّلَاةِ وَنُسَمِّي وَيُسَلِّمُ بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَسَمِعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَإِنَّكُمْ إِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ فَقَدْ سَلَّمْتُمْ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ( صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan rahasia kemegahan dalam kerajaan alam semesta sebagai tanda kemuliaanNya, sebagai tanda keluhuranNya, sebagai tanda kesucian dan kewibawaanNya yang muncul pada semua yang ada di langit dan di bumi, di udara, di darat, di atas tanah atau di bawah tanah, yang tidak kesemua itu dapat dipelajari oleh manusia, namun setiap kali manusia mempelajari sebagian kecil dari kesemua itu maka pastilah mereka akan menemukan rahasia yang menakjubkan dalam setiap penciptaan itu. Dimana jika kita dapat mendengar pembicaraan sebutir sel dari jutaan ribu sel yang ada di tubuh kita, niscaya ia akan berkata kepada kita agar kita tidak mempergunakannya dalam perbuatan hina, dan meminta kita untuk mempergunakannya dalam melakukan sesuatu yang luhur.
Namun butiran-butiran sel yang tidak terlihat oleh mata itu tidak Allah perdengarkan ucapan-ucapannya kepada manusia, dan jika manusia mendengar pembicaraan semua butiran sel itu bahkan segala sesuatu yang ada di alam semesta, maka kesemuanya akan menasihati manusia agar meninggalkan kehinaan dan menuju apda keluhuran dan kemuliaan ,meninggalkan kehinaan menuju kesucian, meninggalkan kehinaan menuju budi pekerti yang luhur, menuju kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat, demikianlah tuntunan sang pembawa risalah kedamaian dan kelembutan, makhluk ciptaan Allah Yang paling ramah dan paling berlemah lembut, yang paling berkasih sayang, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia yang paling berlemah lembut kepada siapa pun, baik itu adalah teman atau musuhnya, baik itu adalah orang yang dikenalnya atau tidak dikenal olehnya, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun, dan segala sesuatu ciptaan Allah subhanahu wata’ala.
Sungguh tiada yang lebih bersifat lemah lembut kepada semua makhluk Allah melebihi sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala memberikan keluhuran kepada hamba-hambaNya, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaih wasallam dimana disebutkan bahwa iman terbagi ke dalam beberapa bagian, dan bagian yang terendah adalah imaathah al adzaa (menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang dari jalan), dan bagian iman yang tertinggi adalah Laa ilaaha illallah. Dimana kalimat luhur Laa ilaaha illallah jika ditimbang dengan semua alam semesta maka ia akan jauh lebih berat, karena kalimat tersebut menampung rahasia keagungan Sang Pencipta alam semesta dari tiada, Yang Maha menciptakan kefanaan dan Maha Menciptakan keabadian, Yang senantiasa menuntun manusia menuju keluhuran dengan perantara hamba-hambaNya yang luhur yang pemimpin mereka adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dapat kita lihat bahwa ibadah yang paling ringan dan mudah adalah yang hal itu merupakan bagian dari iman adalah menyingkirkan suatu hal yang berbahaya di jalan, yang dapat mengganggu orang yang melewatinya, maka perbuatan itu mendatangkan pahala bagi yang mengerjakannya.
Dari hal ini dapat kita fahami bagaimana rahasia kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hambaNya yang berpijar pada perbuatan yang seakan tidak ada artinya yaitu sekedar menyingkirkan sesuatu yang berbahaya di jalan, namun Allah subhanahu wata’ala memandang bahwa orang yang melakukan hal tersebut memiliki sifat yang luhur, sehingga Allah melimpahkan pahala baginya dan mengampuni dosanya. Maka perbuatan baik sekecil apapun mampu menghapus dosa seseorang dengan maaf Allah subhanahu wata’ala. Demikian rahasia kedermawanan Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui bahwa hamba-hambaNya adalah makhluk banyak berbuat dosa, karena jika manusia tidak ada yang berbuat dosa maka untuk apa Allah subhanahu wata’ala memiliki sifat pemaaf pada dzatNya, justru Allah subhanahu wata’ala memilki sifat pemaaf karena Allah mengetahui bahwa manusia selalu berbuat dosa. Namun berbeda antara maaf dari Allah subhanahu wata’ala dan maaf dari makhluk, dimana perbuatan maaf dari makhluk terbatas, sedangkan maaf dari Allah subhanahu wata’ala tidak ada batas dan tidak ada yang menandinginya. Jika seseorang berbuat salah kepada orang lain, maka ia akan segera menjauh darinya untuk menghidari kemurkaannya, namun untuk menghindari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala bukanlah dengan menjauh dariNya akan tetapi dengan mendekat kepadaNya, dimana Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mampu untuk murka kepada hamba yang berbuat dosa justru Allah berlemah lembut kepada hamba yang berhak mendapat murka Allah, namun ia ingin mendekat kepadaNya. Dimana Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ( البقرة : 186 )
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. ( QS. Al Baqarah : 186 )
Dan firmanNya :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ( الزمر : 53 )
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Az Zumar : 53 )
Sang Maha Mencintai dan Maha lemah lembut adalah Allah subhanahu wata’ala, tiada yang lebih berlemah lebut dan berkasih sayang melebihi Allah subhanahu wata’ala, dan Allah yang menciptakan sifat lemah lembut dan kasih sayang pada makhluk. Maka ketika seseorang telah memahami bahwa cara untuk menghindar dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala adalah dengan mendekat kepadaNya, karena kita selalu berbuat kesalahan, dimana mungkin kita sering mebicarakan keburukan atau aib orang lain, atau menghina orang lain dan perbuatan dosa yang lainnya, maka mendekatlah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan memperbanyak ibadah, baik berupa shalat, shadaqah, ibadah haji atau umrah dan lainnya, bahkan hanya sekedar dengan senyum kepada saudara seiman,
Disebutkan oleh guru mulia kita Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Hafizh dalam kitab Is’aaf Thaalibii Ridhaa Al Khallaq, beliau menukil salah satu hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa menggembirakan saudara seiman adalah lebih baik daripada beri’tikaf selama 20 tahun di masjid An Nabawi di Madinah Al Munawwarah, karena Allah subhanahu wata’ala menyukai hati hamba yang mempunyai sifat baik kepada makhluk yang lainnya, Allah mencintai hamba-hamba yang memiliki sifat-sifat baik, dan semakin seorang hamba memiliki sifat-sifat baik maka Allah subhanahu wata’ala akan semakin mencintai mereka. Sehingga yang layak kita fahami dari hadits yang tadi kita baca adalah agungnya rahasia kesejahteraan (As salaam) yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita untuk membacanya setiap selesai melakukan shalat bagi yang telah diberi taufiq oleh Allah subhanahu wata’ala dalam melakukan shalat, yaitu dengan mengetahui tata cara melakukan shalat dengan benar. Sehingga dalam hal ini As salam, Allah menjadikannya sebagai rukun (fardhu) di dalam shalat. Sebagaimana sayyidina Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Dahulu kami saling bersalam dan mendoakan kesejahteraan untuk sesama di dalam shalat, namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar hal itu dan beliau berkata dan memrintahkan kami untuk mengucapkan:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Segala penghormatan hanya milik Allah, dan juga segala shalat dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang hak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”
Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fath Al Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa yang dimaksud hamba-hamba Allah yang shalih adalah mereka adalah para malaikat dan para nabi sebelum kita serta orang-orang shalih yang hidup sebelum kita. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang telah mengucapkan hal tersebut maka sungguh ia telah bersalam (mendoakan kesejahteraan) untuk semua hamba Allah yang shalih yang ada di langit dan bumi, mereka dari golongan malaikat yang di langit atau manusia dan jin yang di bumi. Sehingga kelak di akhirat mereka akan saling bertemu dan saling berterimakasih meskipun sebelumnya di dunia mereka tidak salig mengenal satu sama lain, karena Allah telah menyampaikan salam mereka ketika mereka ucapkan di waktu shalat, sehingga hubungan ruh dan hati tersambung, baik mereka yang kita kenal atau yang tidak kita kenal, baik yang hidupa sezaman dengan kita atau yang tidak sezaman dengan kita, baik mereka adalah dari golongan manusia atau bukan dari golongan manusia. Maka dengan salam tersebut Allah subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai rantai mutiara yang kuat yang tidak bisa dilepas dan dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga seseorang yang melakukan shalat maka ia telah menyambung hubungan baik dengan hamba-hamba yang shalih dengan salam yang mereka ucapkan di saat tasyahhud. Yang mana hal itu akan menjadikan hubungan mereka kelak akrab diantara satu dan lainnya, sebagaimana seseorang yang selalu mendoakan kebaikan untuk orang lain lima kali dalam sehari namun mereka belum pernah mengenal dan belum pernah berjumpa satu sama lain, dan setelah beberapa lama kemudian mereka bertemu, dan orang yang didoakan tersebut mendapat kabar bahwa orang tersebut selalu mendoakan kebaikan untuknya, maka pastilah orang tersebut akan sangat berterima kasih kepadanya dan memberikan sambutan yang sangat baik untuknya. Inilah ikatan kuat yang disambungkan dengan hati atau ruh diantara sesama hamba Allah yang tidak saling mengenal sebelumnya.
Adapun bersalam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tasyahhud hal itu adalah menyambung hubungan ruh dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam minimal 9 kali dalam sehari dalam shalat wajib 5 waktu, dan minimal 9 kali juga kita mendoakan kesejahteraan untuk sesame hamba Allah yang shalih, dan tanpa kita sadari kelak kita akan bertemu dengan mereka dan sekelompok dengan mereka, demikian luhurnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian penjelasan ringkas dari kalimat وَسَلِّمْ dalam kitab Ar Risalah Al Jaami’ah.
Kalimat Salaam secara bahasa bermakna kesejahteraan atau keamanan. Adapun dalam istilah kalimat Salaam adalah keamanan atau perlindungan dari segala hal yang mencelakakan, maka ketika seseorang mengucapkan salam berarti ia telah mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk orang lain. Tuntunan kita dalam Islam adalah kedamaian dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan semua para nabi adalah pembawa kedamaian, mereka bukanlah orang yang bengis atau penguasa yang jahat, meskipun banyak orang yang salah faham bahkan kaum muslimin sendiri banyak yang terjebak dalam pemahaman sesat yang mengatakan bahwa nabi adalah orang yang keras dan bengis, maka sungguh hal tersebut adalah kekeliruan yang sangat besar yang sebagian orang ketahui dari buku-buku sejarah yang diterjemahkan. Dalam masalah ketegasan maka tidak ada yang lebih tegas dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga dengan keberanian maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orang yang pengecut, namun kesemua itu tertutupi oleh sifat lemah lembut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana kita ketahui dari kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diantaranya adalah ketika seseorang berkumpul (berjima’) dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan, yang mana hal itu adalah termasuk dosa besar yang dapat menghapus dosa tersebut diantaranya adalah dengan berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Kemudian orang tersebut datang kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Sungguh celaka aku, dan aku akan masuk ke dalam api neraka”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Apa yang membuatmu berkata demikian?”, ia berkata : “Aku telah berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan maka pastilah aku akan celaka dan masuk neraka”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Berpuasalah selama 2 bulan berturut-turut”, maka orang itu berkata : “Wahai Rasulullah, aku adalah pekerja berat (kuli) sungguh aku tidak mampu untuk melakukan puasa selama 2 bulan berturut-turut”, lalu Rasulullah memerintahnya untuk memberi makan 60 orang miskin, dan ia pun kembali berkata : “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang sangat miskin jangankan untuk memberi makan 60 orang miskin, untuk memberi makan keluargaku saja aku masih belum mampu mencukupinya”, dan apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?, padahal hukum sudah jelas mengatakan bahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan maka ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin, dan tentunya orang yang paling tegas terhadap hukum syariat Islam adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau lah pemimpin para muslimin. Namun karena sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat berlemah lembut, sehingga ketika mendapati orang tersebut tidak mampu melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam rumah beliau dan mengelurakan sekitar setengah karung kurma dan berkata kepada orang tersebut : “ Berikanlah kurma ini kepada orang yang paling miskin di Madinah Al Munawwarah”, lihatlah kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana orang lain yang berbuat dosa namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menebusnya. Kemudian orang tersebut berkata : “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akulah orang ynag paling miskin di Madinah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jika demikian maka kurma itu untukmu”, demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi hukum perlu kebijaksanaan, dan jangan kita memandang setiap hukum dari satu pihak dan langsung memutuskannya, namun semua itu harus kita ketahui bagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana ketika seseorang datang kepada sayyidina Umar bin Khattab Ra dan berkata : “Wahai Khalifah Umar, seorang tetanggaku telah mencuri maka potonglah tangannya”, sayyidina Umar berkata : “Apakah betul engkau telah mencuri dari rumah tetanggamu”, orang tersebut berkata : “Iya betul aku telah mencuri”, lantas sayyidina Umar berkata : “Apa yang membuatmu berbuat hal itu?”, maka orang itu menjawab : “Aku sangat merasa lapar dan tidak lagi mampu menahannya”, lantas sayyidina Umar berkata : “Jika demikian maka engkau (yang dicuri) yang akan diberi hukuman”, maka orang yang dicuri menolak dan berkata : “Wahai khalifah mengapa justru aku yang akan dihukum, sedangkan dialah yang telah mencuri dari rumahku”, maka sayydina Umar bin khattab RA berkata : “Iya karena engkau tidak mengetahui bahwa tetanggamu kelaparan, sehingga engkau telah menterlantarkannya”, demikian kebijakan para sahabat dalam menjalankan hukum syariat Islam.
Oleh sebab itu kita harus memahami dan mendalami semampu kita perbuatan-perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mudah tertipu dengan kejadian-kejadian yang sering kita temui dalam kehidupan kita, yang diantara mereka melakukan bom bunuh diri dimana hal ini merupakan perbuatan yang mengakibatkan pelukunya murtad dan jelas-jelas telah dilarang dalam syariat Islam, sehingga tidak ada satu madzhab pun yang memperbolehkan bom bunuh diri. Sebagaimana beberapa macam hal pembunuhan dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alahihi wasallam seperti dilarang membunuh anak-anak, dilarang membunuh wanita, dilarang membunuh orang yang tidak bersenjata, dilarang membunuh orang yang tidak menyerang, namun kesemua larangan itu dilanggar dengan seseorang melakukan bom bunuh diri, yang mungkin mereka menganggap hal tersebut adalah sebuah keberanian, justru hal tersebut adalah sifat pengecut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengahadiri perang sebanyak 27 kali semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau tidak pernah memulai peperangan tersebut kecuali kelompok musuh lah yang memulai menyerang Islam, dan ketika terjadi perang pun maka beliau memerintah ummat Islam dalam peperangan tersebut diantaranya untuk tidak memukul atau membunuh wanita dan anak-anak, tidak pula memukul bagian wajah, tidak menyerang orang yang tidak bersenjata. Sebagaimana dalam perang Hunain ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar bahwa para musuh telah berkumpul untuk menyerang Madinah Al Munawwarah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar bersama kaum muslimin sebelum mereka sampai ke Madinah Al Munawwarah, dan ketika dalam peperangan para musuh mulai menyerang dari sela-sela, sehingga kaum muslimin bercerai-berai dan bukan karena takut namun karena mereka kebingungan menghadapi serangan musuh berupa anak panah, tombak dan lainnya yang berasal dari segala penjuru, maka melihat keadaan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung memacu kuda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengarah kepada musuh dan berkata :
أنَا النبيُّ لاَ كَذِبْ أنَا ابْنُ عَبْدِ المُطَّلِب “
Aku adalah seorang nabi dan bukan suatu kebohongan, aku adalah cucu Abdul Mutthallib”. Para sahabat menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk maju karena khawatir terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan-serangan musuh. Demikian keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau juga bersifat lemah lembut dan berkasih sayang. Ketika perang Badr Al Kubra telah selesai, dimana ketika itu jumlah kaum muslimin 313 dan jumlah kaum kuffar adalah 3000 namun demikian kemenangan ada pada kaum muslimin, karena kaum muslimin adalah orang-orang yang penyabar, yang mana kemarahan orang yang penyabar sangat berbeda dengan orang yang pemarah, dimana orang yang penyabar ketika marah maka ia marah dengan kekuatan Allah subhanahu wata’ala, sehingga jumlah pasukan muslimin sebanyak 313 mampu mengalahkan kaum kuffar, sehingga sebagian dari kaum kuffar mundur dan sebagian yang lain tertangkap, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat : “Mereka adalah orang sekampung kita, apakah kalian akan menangkap orang yang sekampung dengan kita?!”, indahnya budi pekerti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berpijar dalam setiap waktu dan zaman dari generasi ke generasi, dari guru ke guru, dari para penuntun keluhuran. Dan di saat ini kita berada pada bulan yang mengingatkan kita pada anugerah besar yang diberikan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu bulan Rajab yang di bulan inilah diturunkannya perintah shalat ketika peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tanggal 27 Rajab.
Hadirin yang dimuliakan Allah Selanjutnya kita bermunajat dan bedoa kepada Allah subhanahu wata’ala semoga acara akbar malam Isra’ Mi’raj di Monas dengan disertai dzikir Ya Allah sebanyak 1000 x semoga berlangsung sukses zhahir dan bathin. Telah disampaikan kabar tentang acara ini kepada guru mulia Al Habib Umar bin Hafizh dan beliau bersedia untuk memberi sambutan lewat streaming dari Tarim Hadramaut insyaallah. Kita berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni seluruh dosa kita dan dosa kedua orang tua kita, dan semoga Allah melimpahkan tuntunan hidayah dan tuntunan kebenaran bagi mereka yang berada dalam kerusakan aqidah atau ketidakfahaman dalam menjalankan syariat yang sebagaimana mestinya, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ( البقرة : 185 )
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. ( QS. Al Baqarah : 185 )
Allah subhanahu wata’ala senantiasa memberikan yang mudah untuk hamba-hambaNya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidah Aisyah Ra berkata bahwa jika dipilihkan kepada Rasulullah dua hal maka pastilah beliau akan memilih yang paling mudah untuk ummatnya, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
يَسِّروا ولا تُعَسِّروا ، وبَشِّروا ولا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah jangan mempersulit, berilah kabar gembira jangan menakut-nakuti”
Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu membimbing masa depan kita dan melimpahkan kebahagiaan kepada kita di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
READ MORE - Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian XIV Makna Kalimat وَسَلِّمْ Senin, 13 Mei 2013
Sabtu, 18 Mei 2013

Kebangkitan Sunnah


Dimasa mulai redupnya cahaya syariah maka para pembela sunnah segera memperbaharuinya, sebagaimana ketika wafatnya Rasulullah saw dan Mahkota Dakwah pada Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, mulailah terjadi hal-hal yang mesti dimunculkan yang sebelumnya belum pernah dilakukan, Khalifah Abubakar Asshiddiq ra memerangi muslimin yang tak mau mengeluarkan zakat, sebagaimana sabda Nabi saw bahwa aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah, melakukan shalat, mengeluarkan zakat, bila mereka melakukan itu maka amanlah darah mereka dariku dan harta mereka, dan perhitungan mereka atas Allah swt (shahih Bukhari dan Muslim). Rasul saw belum pernah memerangi orang muslimin dimasa hidupnya, namun dengan hadits ini Khalifah Abubakar Shiddiq ra beristinbat dan memerangi kaum muslimin yang tak mau berzakat, maka Khilafah islamiyah selamat dari kehancuran,
Kemudian terjadilah pembantaian pada Ahlul Yamamah, yaitu para sahabat yang hafal alqur'an, maka berkata Umar bin Khattab ra agar Alqur'an ditulis dan dikumpulkan dalam satu jilid, maka Abubakar ra berkata : Bagaimana aku berbuat hal yang tak pernah diperbuat oleh Rasulullah saw?,(tak pernah ada hadits atau ayat yang memerintahkan untuk membukukan Alqur'an dalam satu kitab sebagaimana sekarang, Alqur'an masih bertebaran di hafalan sahabat, tertulis di tembok-tembok dan di kulit onta), namun Umar ra terus membujuknya demi maslahat muslimin, akhirnya Khalifah Abubakar ra setuju dan ia memerintahkan Zeyd bin tsabit ra untuk mulai menulis dan menjilid Alqur'an (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Penulisan Alqur'an dan penjilidannya diresmikan dimasa Khilafah Usman bin Affan ra, hingga kini Mushaf Al Qur'an disebut Mush haf Utsmaniy.
Di zaman Umar bin Khattab ra ia mengeluarkan fatwa shalat tarawih berjamaah, dan ini tak pernah diperintahkan di zaman Rasul saw, walaupun pernah diberlakukan namun kemudian dibubarkan dan tak pernah diperintahkan Rasul saw untuk dilakukan kembali, dan tak pernah dilakukan lagi hingga beliau saw wafat, baru dimasa Umar ra shalat tarawih dilakukan berjamaah, seraya berkata : "inilah sebaik baik bid'ah" (shahih Bukhari hadits no.1906). Khalifah Usman bin Affan ra merubah Adzan pada shalat jumat menjadi dua adzan, maslahat bagi muslimin karena muslimin mulai berdatangan dari tempat yang jauh, dan hal itu tak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, dan dimasa khalifah-khalifah sebelumnya.
Kemudian selesai masa Muhajirin dan Anshar, wafatlah para sahabat radhiyallahu'anhum, wafatlah kesemua wajah mulia yang menyaksikan hadits dan turunnya ayat, maka mulailah para Tabi'-Tabi'in risau hadits-hadits Rasul saw akan dilupakan, atau dipalsukan, maka mereka mulai menulis hadits-hadits itu, serta mulai mentashihkan hadits dengan Ilmu Musthalahul Hadits, yang sebelumnya tak pernah diperintahkan oleh rasul saw untuk memilah-milah hadits beliau saw, namun hal ini diada-adakan oleh para Ulama demi terjaganya syariah Islamiyah dan Sunnah Nabawiyyah. Kemudian mulailah timbul Ikhtilaf dalam pemahaman hadits dan ayat, maka demi menyelamatkan ummat terbentuklah Madzhab, agar muslimin bisa berpedoman pada satu Imam dalam pengamalan Ibadahnya.
Kemudian mulai redup pula lah semangat ummat untuk perduli pada sunnah, semakin banyak orang yang meninggalkan shalat, semakin banyak orang yang hanya berfikir dunia dan dunia, maka barat dan timur dipenuhi Fasad dan kedhaliman, maka para pejuang sunnah mulai mencari cara untuk Kebangkitan sunnah dan Medan Dakwah Akbar yang dapat memadukan muslimin dalam satu perkumpulan, demi silaturahmi, demi mereka mendengarkan Tabligh dan demi bangkitnya semangat baru, namun kebangkitan semangat ini butuh lambang pembangkitnya, bukan Ramadhan, bukan idulfitri, bukan idul adha, karena hari-hari itu sudah umum, maka mereka mengambil kesimpulan bahwa simbol kebangkitan Ummat adalah hari kelahiran Rasul saw, hari mulia yang mengawali kebangkitan Risalah, karena Rabi'ul awwal bukan hanya bulan kelahiran nabi saw, namun juga bulan Hijrahnya Rasul saw ke Madinah, sebagaimana dijelaskan dalam semua buku sejarah bahwa Hijrah Rasul saw bukanlah pada bulam Muharram, namun Umar bin Khattab ra memulai penanggalan Hijriah pada 1 Muharram karena di bulan itulah sahabat mulai berhijrah ke Madinah, namun Hijrah Rasul saw adalah pada Rabiul awal, maka dibulan itu pula wafatnya Rasul saw.
Kejadian-kejadian agung yang merupakan kebangkitan risalah kesemuanya berpadu pada hari kelahiran Rasul saw, yaitu kelahiran beliau adalah lambang seluruh kebangkitan islam, lalu hari hijrah beliau saw yang merupakan lambang semangat tersuci dalam islam, yaitu berpadunya semangat Muhajirin yang meninggalkan kampung halamannya yang tercinta ke negeri asing, dan semangat Anshar yang menerima tamu-tamu asing untuk dibagi dua harta mereka, dan rumah mereka. Dua semangat agung dari penegak Risalah ini berpadu pada hijrah Rasul saw yaitu yang juga pada senin 12 Rabiul awwal. Kemudian hari wafatnya Rasul saw yang juga pada senin 12 Rabiul awwal, saya menamakan hari wafatnya Rasul saw adalah hari kebangkitan semangat terdahsyat setelah wafatnya Rasul saw yg mana para sahabat berpecah belah dan putus asa, Namun di hari 12 Rabiul awal saat jenazah rasul saw masih terbujur, maka bangkitlah Da'I Agung, Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra yang berpidato membangkitkan semangat muhajirin dan anshar agar tak putus asa, maka bangkitlah semangat mereka.

Tiga kejadian besar berpadu pada 12 Rabiul awwal, yaitu Kelahiran sang Nabi saw yang mengawali kebangkitan Risalah, peristiwa Hijrah yang mengawali penyebaran risalah dan kekuasaan Islam, dan peristiwa wafatnya Rasul saw yang melambangkan kebangkitan semangat para sahabat untuk terus berjuang dan setia pada perjuangan Nabi mereka. Maka para pembesar ulama mengambil munasabah 12 Rabiul awal dengan perayaan, Medan Tabligh, Medan pembangkit semangat muslimin, untuk kembali pada Panji Rasulullah saw, nama beliau saw di elu-elukan, dipuji, dimuliakan, sejarahnya dibacakan, kesemuanya demi menyemangati muslimin agar kembali beridolakan Sang Nabi saw sebagaimana para sahabat radhiyallahu'anhum. Maka hal ini berhasil, Medan Dakwah dan Tabligh terbesar didunia sepanjang tahun adalah pada Rabiul awal, tak ada medan dakwah terbesar didunia melebihi perayaan hari kelahiran Rasul saw, dimana hampir setiap masjid, majelis taklim, musholla, bahkan perkantoran, sekolah, bahkan rumah-rumah masyarakat, dipenuhi dengan kesibukan merayakan Maulid Nabi saw, merupakan adat istiadat agung yang diajarkan para salfussholeh demi bangkitnya cinta ummat ini pada Nabi mereka,
Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 08 March 2007 )
READ MORE - Kebangkitan Sunnah

Sepotong Kisah Cinta dari Rasulullah saw untuk Aisyah

    Inilah cinta. Cinta yang murni yang tak setiap orang mengalaminya. Tahukah engkau apa itu cinta kawan? Berjuta-juta orang telah mendefinisikannya namun tak pernah menemukan titik temu dalam persetujuan. Cinta itu memang subjektif dan perspektif. Tak ada batasan tertentu. Apabila ada yang mencoba membatasi, maka yang lain menyatakan tak berbatas. Yah, inilah cinta yang membuat nanar nalar seseorang. Seringkali berargumen tentang cinta, maka bulir-bulir kebingungan menjadi hasil dari khayal dan imaji. Wajarlah apabila berbagai pendapat bagaikan pertentangan antara titik nadir dan titik zenit.
    Ada yang mengatakan, “cinta adalah siksaan yang menyenangkan.” Betulkah demikian? Yah, terkadang. Ketika seorang anak Adam sedang memendam rindu yang mendalam untuk salah satu tulang rusuknya yang telah lama hilang. Ataukah begitu pula sebaliknya, sang rusuk terlalu mengindahkan untuk kembali menyatu bersama setiap anggota tubuh dari si anak Adam. Sekali lagi aku nyatakan bahwa itu hanya terkadang, bisa jadi benar namun juga tertumpuk dalam pandangan yang salah, entahlah.
    Itulah cinta, kadang membuat cemburu padahal ia belum sah terukir di relung hati seorang hamba. Sebuah rasa dalam hati untuk selalu mengingkari dan ingin hanya menjadi milik sendiri. Hei, aku tidaklah membatasi ekplorasi engkau tentang cinta kawan. Namun aku hanya memaparkan setiap opini cinta yang terhempas yang pernah bertamu di salah satu indraku.
    Andai cinta itu berwujud manusia, maka aku adalah orang yang pertama yang akan menanyakan kepadanya, “Wahai Cinta, mengapa engkau selalu membuat anak cucu Adam merasakan derita, bahagia, sakit, pedih, sedih, merintih, dan segala rasa yang tak mesti?” Namun aku tak mau berandai. Biarlah setiap pasang manusia mempertanggungjawabkan cintanya kepada Sang Pencipta cinta, nanti, di sebuah mahkamah penghukuman akhir di hari terakhir.
    Kisah yang akan aku bagikan kali ini adalah sepotong kisah cinta dari Rasulullah saw untuk salah seorang istrinya yang bernama Aisyah. Kemudian, biarkanlah Ahmad yang meriwayatkan:
    Dari Aisyah ra. Dia berkata, ”Aku pernah menyertai Rasulullah saw dalam salah satu perjalanannya. Saat itu aku masih muda, badanku tidak gemuk dan tidak berlemak. Beliau bersabda kepada orang-orang, “Majulah ke sini!” Mereka pun maju. Lalu beliau memanggilku dan mengajakku beradu lari. Kami pun adu lari dan aku bisa mengalahkan beliau. Beliau tidaklah berkomentar apa-apa atas kemenanganku ini. Ketika badanku gemuk dan berlemak, aku menyertai beliau dalam perjalanannya. Beliau menyuruh orang-orang untuk maju menonton, lalu mengajakku adu lari, dan ternyata beliau dapat mengalahkan aku. Beliau tersenyum sambil bersabda, “Kini satu banding satu.”

***

    Entah bagaimana denganmu, namun aku tersenyum pertama kali membacanya. Seorang Rasul yang sungguh melankolis dan romantis di balik sosoknya sebagai seorang pemimpin yang perkasa lagi bijaksana namun hany untuk istrinya. Hei, ini yang kusebut indahnya pacaran setelah menikah kawan, bukan sebaliknya. Bukan aku ingin meracuni otakmu tantang segala perspektifku dalam cinta, namun ini persepsi Rasul kita kawan, Anak Abdullah bergelar shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Banyak makna dalam kisah itu. Tentang canda, tentang sayang, dan pastilah tentang cinta. Ada juga yang mengatakan bahwa salah satu maknanya ialah agar kaum hawa jangan terlalu gemuk, :). Hidup itu pilihan, silahkan memilih sebebas-bebasnya, namun bersiap-siap pula dalam menerima konsekuensinya. Silahkan engkau mau memaknai apa tentang kisah di atas, toh itu buah pikir kawan sendiri. Ingat, hati ini hanya ada satu, jadi hati-hatilah dalam menyandingkan hati dengan hati yang lain. Ah, cinta… cinta… cinta… sebaris kata yang penuh misteri yang indah. Wallahu a'lam.

14 April 2012
Islamku mahar untuk cintamu…
READ MORE - Sepotong Kisah Cinta dari Rasulullah saw untuk Aisyah

Kisah Islam: Akhirnya Hidayah Itu Datang Kepadaku

imam hanafi 

KISAH ISLAM: AKHIRNYA HIDAYAH ITU DATANG KEPADAKU

Masjid Jami’ yang luas seakan menjadi sempit lantaran padatnya kaum muslimin yang berkumpul disebabkan rasa cinta dan kagum terhadap Malik bin Dinar –tokoh besar dari kalangan ahli zuhud dan ahli ibadah. Beliau duduk di tempatnya dalam keadaan termenung, sesaat kemudian beliau mendongakkan kepalanya. Semua orang yang hadir ketika itu menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya apda diri Malik bin Dinar sang ahli fikih Irak, seorang imam, dan pemberi nasihat di Masjid Kufah.



Air mata beliau berlinangan membasahi jenggotnya karena rasa kagumnya terhadap antusiasme kaum muslimin yang datang untuk mendengarkan ceramahnya pada hari itu. Memang, pada hari sebelumnya beliau mengumumkan kepada mereka bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang belum mereka ketahui dan hal-hal yang wajib mereka ketahui.
Imam Malik bin Dinar pun bertutur kata. Beliau membuka pembicaraannya dengan suara yang menyentuh lubuk hati para pendengarnya dan orang-orang yang mengaguminya sehingga seolah-olah suara tersebut berasal dari tempat yang jauh. Beliau memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mendoakan orang-orang yang mendengar dan orang-orang yang mengenalnya agar mendapat kebaikan dan ampunan karena mereka telah berbaik sangka kepada beliau.
Beliau menuturkan, “Kemarin aku telah menyampaikan kepada kalian bahwa dengan izin Allah, besok aku akan bercerita mengenai seorang hamba yang butuh kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, hamba yang kalian dengarkan ceramahnya, yakni mengenai Malik. Aku mengetahui pada diriku ada sesuatu yang tidak kalian ketahui, dan kalian selalu berbaik sangka kepada kepadaku. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kalian dengan kebaikan.”
“Ketika aku masih muda, aku adalah seorang polisi yang jahat. Waktu itu, aku diberi tugas untuk menjaga pasar. Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatanku. Tidak ada seorang pun yang lepas dari kekejamanku. Betapa banyak orang yang telah kucelakakan dan kusakiti. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku. Aku tidak mengingat mereka lagi kecuali tambatan hatiku telah putus lantaran meratapi diriku sendiri. Seandainya bukan karena iman yang diliputi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena rahmat-Nya pula, pastilah hari ini aku tidaklah seperti yang kalian lihat.”
“Wahai saudara-saudaraku! Dulu, aku sama sekali tidak pernah meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku meminum khamar, memukuli orang, ikut campur urusan orang-orang yang bukan urusanku, hingga dalam persoalan jual-beli. Aku membela orang yang menyenangkanku meskipun dia berbuat jahat.”
“Suatu hari aku sedang berjalan di pasar, tiba-tiba aku bertemu dua lelaki yang sedang bersengketa mengenai suatu perkara. Satu pihak membeli barang, sedangkan satu pihak lain menjual barang dan bersikeras mematok harga tertentu pada barang tersebut. Sedangkan si pembeli bahkan hampir saja aku memukulnya dengan tongkat aku andai tidak ada sesuatu yang tidak aku ketahui menghalangi aku. Kemudian aku termenung memandangi si pembeli tersebut, dan aku baru menyadari ternyata dia seorang yang rambutnya telah beruban. Dari raut mukanya tersirat bahwa dia orang yang baik. Dia mengisyaratkan kepadaku dengan tangannya agar aku diam terlebih dahulu sebelum menjatuhkan putusan. Dia menjelaskan letak perselisihan antara dirinya dengan si penjual.”
“Seumur-umur, baru kali inilah aku mau mendengarkan pengaduan seseorang. Dia menutup pembicaraannya dengan mengatakan bahwa dia pernah mendengar hadis dari junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda mengenai hal ini, ‘Apabila salah seorang di antara kalain pergi ke pasar lalu dia membeli sesuatu yang dapat menggembirakan anak-anak perempuannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat kepadanya.’ Kemudian dia melanjutkan, ‘Aku baru datang dari suatu perjalanan. Sebelum sampai rumah, aku ingin membeli oleh-oleh untuk menggembirakan ketiga putriku agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang kepadaku.”
Cerita lelaki tersebut membekas di hatiku. Kemudian aku pun membelikan barang-barang yang diinginkannya dan kuberikan padanya. Aku baru meninggalkan orang tersebut setelah meminta kepadanya agar anak-anak perempuannya mau mendoakanku.”
“Meski telah berlalu beberapa hari, cerita lelaki tersebut masih saja terngiang di telingaku, hingga suatu saat aku melihat seorang gadis (budak) yang sangat cantik yang dijual di pasar. Aku jatuh hati padanya, aku mencintainya. Kubeli dia untuk kubebaskan kemudian kunikahi dan hidup bahagia dengannya selama beberapa waktu. Dia telah melupakan masa laluku yang kelabu. Aku mulai hidup istiqamah terutama pada saat kami telah dikaruniai anak perempuan yang cantik. Akan tetapi, setelah berlalu beberapa hari sejak kelahiran anakku, istriku meninggal dunia. Dia meninggalkan anak kami dalam keadaan yatim. Setelah itu, selama dua tahun aku hidup dalam keadaan tidak beristri. Perhatianku hanyalah mengurus anak perempuanku yang merupakan segala-galanya bagi di dunia ini.”
“Pada suatu hari, ketika aku pulang kerja, aku mendapati putriku sedang sakit. Dengan segera kucarikan obat untuknya, bahkan dari sekian banyak dokter. Akan tetapi, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih cepat. Putriku telah tiada, meninggalkan aku seorang diri. Aku pun mendekapnya erat di dadaku sembari berharap agar dia hidup kembali. Tubuh putriku kuyup karena deraian air mataku. Aku memanggil-manggilnya dengan penuh lara disertai hati yang risau. Aku pun memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’alakemudian aku menguburkan putri tunggalku.”
“Namun, setelah itu aku mendatangi kedai minuman keras sebagai tempat pelarian dari apa yang telah menimpa diri dan hidupku. Akhirnya aku kembali menenggak khamar dan menjadi pemabuk berat. Aku ingin melupakan kesedihan dalam kehidupanku. Meskipun aku menyadari apa yang terjadi, akan tetapi aku masih merasakan betapa berat musibahku dan kesendirianku.”
“Kekejaman dan kekerasanku terhadap orang-orang kambuh lagi. Seolah-olah aku ingin balas dendam kepada mereka, dan seakan-akan merekalah yang merampas istri, putri, dan kebahagianku. Suatu hari aku sedang berkeliling pasar. Kemudian aku melihat perempuan yang sedang membawa sedikit makanan, lalu aku merampasnya dengan paksa. Aku pun tidak menghiraukan tangisan dan jeritannya, bahkan ratapan anaknya yang masih kecil.”
“Malam itu aku pulang ke rumah lebih awal dan malam itu adalah malam nisfu Sya’ban. Ketika aku tertidur pulas, aku bermimpi bahwa kiamat telah datang, sangkakala telah ditiup, dan semua makhluk dikumpulkan jadi satu, termasuk juga diriku. Kemudian aku mendengar suara yang mengerikan dan menakutkan.”
“Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan yang membuka mulutnya, percikan api pun berhamburan dari matanya. Ular itu pun menyerangku. Lalu aku lari karena takut padanya sehingga aku berjumpa dengan orang tua yang lemah.’
“Aku memanggilnya, ‘Tolonglah aku! Selamatkanlah aku dari ular ini! Semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala juga menyelamatkanmu.”
“Tetapi, dia justru menangis di hadapanku dan mengeluhkan kelemahannya.”
“Dia berkata, ‘Cepatlah! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari ular tersebut.”
“Kemudian aku berlari semakin kencang hingga aku naik ke puncak, tepi, dan ujung kiamat. Aku naik di atas tingkat neraka, dan hampir saja aku terjatuh ke dalamnya lantaran ketakutanku, sedangkan ular besar tersebut memburu di belakangku.”
“Tiba-tiba ada orang berteriak, ‘Kembalilah! Kamu bukan penduduk neraka.”
“Lalu aku kembali mencari pertolongan, sedangkan ular besar mencariku. Aku kembali mendatangi orang tua tersebut. Aku terus memohon belas kasihan kepadanya untuk kali kedua. Dia pun mengeluhkan ketidakmampuannya menghadapi binatang liar yang menakutkan itu.”
“Kemudian dia berkata, ‘Berjalanlah ke gunung itu, karena di dalamnya terdapat beberapa titipan kaum muslimin. Jika engkau mempunyai titipan di sana, maka dia akan menolongmu.”
“Lalu aku memandang sebuah gunung yang bersinar dan terbuat dari perak. Di tempat tersebut juga terlihat tabir-tabir yang tergantung di atas tiap-tiap tempat yang diberi daun pintu dari emas merah yang berkilau. Di atas tiap-tiap daun pintu terdapat tabir dari sutera yang keindahannya menyilaukan mata. Aku pun bergegas menuju tempat tersebut sedangkan ular besar tadi masih membuntuti di belakangku.”
“Ketika aku telah mendekat dengan tempat tersebut, sebagian malaikat berteriak, ‘Angkatlah tabir-tabir dan bukalah pintu-pintu’.”
“Kemudian aku melihat anak-anak kecil bak rembulan. Sedangkan ular besar mendekat kepadaku. Aku bingung menghadapi masalah ini. Lantas sebagian anak-anak kecil berteriak, ‘Celaka kamu! Naiklah kalian semua. Sungguh, musuhnya telah dekat dengannya.”
“Mereka pun berdatangan secara bergiliran. Tiba-tiba aku melihat putriku yang telah meninggal dunia. Dia melihatku seraya menangis dan berkata, ‘Ayahku, demi Allah.’
“Kemudian aku melompat bagaikan melesatnya anak panah ke dalam piringan neraca dari cahaya sehingga dia berada di sisiku. Tangan kirinya diulurkan ke tangan kananku dan aku bergantung padanya. Sedangkan tangan kanannya dibentangkan ke arah ular besar, maka si ular pun lari terbirit-birit. Dia mendudukkanku. Sungguh, aku telah mengalami kelelahan dan kecapekan. Aku mendekapnya dan mengecupnya. Air mata membasahi mataku seakan-akan aku khawatir kehilangannya lagi. Aku menarik tangannya ke janggutku dan aku ajak dia bergurau. Kedua matanya yang indah memandangku dengan pandangan kasih sayang dan cinta tulus. Dia berkata kepadaku, “Wahai ayahku!
Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka).” (QS. Al-Hadid: 16)
Tatkala aku mendengar ayat ini, aku menangis. Tidak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya.”
“Aku berkata kepadanya, ‘Kalian mengetahui Alquran?’”
“Dia menjawab, ‘Kami lebih tahu tentang Alquran daripada engkau.”
“Aku melanjutkan, ‘Jelaskan kepadaku tentang ular yang hendak membinasakanku.’ ‘Ular tersebut adalah amal burukmu yang keji yang engkau kokohkan sendiri. Dia berbalik menyerangmu dan menginginkanmu masuk ke dalam neraka,’ jawabnya.”
“Aku bertanya lagi, ‘Sedangkan kakek tua tersebut siapa?’”
“Dia menjawab, ‘Itu amal baikmu, dan engkau sendirilah yang melemahkannya hingga dia tidak mampu menolongmu.”
“Aku berkata, ‘Wahai anakku! Apa yang kalian lakukan di gunung ini?”
“Dia menjawab, ‘Anak-anak kaum muslimin berdiam di sini sampai hari kiamat datang. Kami menanti kalian datang dan kami memberi syafaat untuk kalian.”
“Tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku. Keringat mengucur membasahiku bagai hujan lebat yang menenggeamkanku. Aku meraih tongkatku, lalu aku hancurkan alat-alat musik dan botol-botol minuman keras. Hati nuraniku terpanggil untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Setelah itu, hingga berhari-hari aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Aku tidak mampu bergerak. Dalam keadaan seperti ini, aku memohon ampun kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, dan memohon rahmat-Nya. Aku bertekad untuk memurnikan niat menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Pada hari-hari pertama taubatku, aku beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladisertai rasa takut yang luar biasa. Sebab, dalam sebagian besar waktu, aku selalu membayangkan sosok ular besar ada di hadapan aku dan hendak memangsaku.’
“Dalam kondisi yang sarat akan kekhawatiran dan ketakutan, aku pun membatasi diri dari banyak orang. Kebetulan ketika itu kami semua sedang mengalami paceklik, karena tidak pernah turun hujan, maka kami mulai memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang ketika itu, tidak pernah turun hujan, sehingga tanaman menjadi kering, dan kami mengalami kehasuan.”
“Pada suatu hari ketika orang-orang telah pergi dan tinggal aku sendirian yang tertinggal di mushalla, aku berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berkulit hitam yang kecil kedua betisnya dan buncit perutnya. Setelah memasuki musholla dia melaksanakan shalat dua rekaat. Kemudian dia menengadahkan kepala ke langit seraya berkata, ‘Rabbku, sampai berapa banyak Engkau menolak hamba-hamba-Mu meminta sesuatu yang tidak dapat mengurangi apa yang ada di sisi-Mu. Aku bersumpah kepada-Mu berkat cinta-Mu kepadaku agar Engkau memberi siraman hujan kepadaku sekarang.”
“Hampir-hampir dia belum selesai berdoa, langit pun menurunkan hujan bagaikan mulut sumur. Ketika lelaki tersebut hendak beranjak, segera aku menghampirinya dan berkata, ‘Apa kamu tidak malu mengatakan, ‘berkat cinta-Mu kepadaku.’ Apa kamu tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintaimu?’”
“Dia menjawab, ‘Wahai orang yang menyibukkan diri dengan diri sendiri dan melalaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Di manakah aku pada saat Allah Subhanahu wa Ta’alamenjadikan hanya aku sendiri yang mengesakan-Nya. Tidak ada yang lain. Dia tidak melakukan hal itu melainkan cinta-Nya kepadaku. Bukankah engkau tahu bahwa Allah Maha Luas ampunan dan besar cinta-Nya kepada para hamba-Nya. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah berikut:
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)
Lalu dia meninggalkanku dalam keadaan bingung. Dan semenjak hari itu, aku benar-benar menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dihantui ketakutan terhadap ular besar.”
Malik bin Dinar terdiam sejenak. Kemudian dia berkata dengan tegas dan khusyu’,
“Jamaah sekalian! Sungguh, Allah Maha Penyayang. Bergembiralah kalian dengan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sampaikanlah kabar gembira ini kepada orang-orang. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kalian. Seandainya kalian mengetahuinya, pastilah kalian tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Apakah kalian mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai manusia? Jika demikian, ketahuilah bahwa tanda-tanda cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah selalu berdzikir kepada-Nya secara kontinyu. Sebab, orang yang cinta sesuatu, pastilah dia sering menyebut-nyebutnya. Barangsiapa tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh ilmunya dangkal dan sia-sialah umrnya. Bertaubatlah kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, wahai hamba-hamba Allah!”
Imam Malik bin Dinar berdiri dan orang-orang pun ikut bangkit berdiri serta mengulang-ulang taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hari tersebut dijadikan “hari orang-orang bertaubat.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
Artikel www.KisahMuslim.com
READ MORE - Kisah Islam: Akhirnya Hidayah Itu Datang Kepadaku

Kisah Islam: Akhirnya Hidayah Itu Datang Kepadaku

imam hanafi 

KISAH ISLAM: AKHIRNYA HIDAYAH ITU DATANG KEPADAKU

Masjid Jami’ yang luas seakan menjadi sempit lantaran padatnya kaum muslimin yang berkumpul disebabkan rasa cinta dan kagum terhadap Malik bin Dinar –tokoh besar dari kalangan ahli zuhud dan ahli ibadah. Beliau duduk di tempatnya dalam keadaan termenung, sesaat kemudian beliau mendongakkan kepalanya. Semua orang yang hadir ketika itu menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya apda diri Malik bin Dinar sang ahli fikih Irak, seorang imam, dan pemberi nasihat di Masjid Kufah.



Air mata beliau berlinangan membasahi jenggotnya karena rasa kagumnya terhadap antusiasme kaum muslimin yang datang untuk mendengarkan ceramahnya pada hari itu. Memang, pada hari sebelumnya beliau mengumumkan kepada mereka bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang belum mereka ketahui dan hal-hal yang wajib mereka ketahui.
Imam Malik bin Dinar pun bertutur kata. Beliau membuka pembicaraannya dengan suara yang menyentuh lubuk hati para pendengarnya dan orang-orang yang mengaguminya sehingga seolah-olah suara tersebut berasal dari tempat yang jauh. Beliau memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mendoakan orang-orang yang mendengar dan orang-orang yang mengenalnya agar mendapat kebaikan dan ampunan karena mereka telah berbaik sangka kepada beliau.
Beliau menuturkan, “Kemarin aku telah menyampaikan kepada kalian bahwa dengan izin Allah, besok aku akan bercerita mengenai seorang hamba yang butuh kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, hamba yang kalian dengarkan ceramahnya, yakni mengenai Malik. Aku mengetahui pada diriku ada sesuatu yang tidak kalian ketahui, dan kalian selalu berbaik sangka kepada kepadaku. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kalian dengan kebaikan.”
“Ketika aku masih muda, aku adalah seorang polisi yang jahat. Waktu itu, aku diberi tugas untuk menjaga pasar. Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatanku. Tidak ada seorang pun yang lepas dari kekejamanku. Betapa banyak orang yang telah kucelakakan dan kusakiti. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku. Aku tidak mengingat mereka lagi kecuali tambatan hatiku telah putus lantaran meratapi diriku sendiri. Seandainya bukan karena iman yang diliputi rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena rahmat-Nya pula, pastilah hari ini aku tidaklah seperti yang kalian lihat.”
“Wahai saudara-saudaraku! Dulu, aku sama sekali tidak pernah meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku meminum khamar, memukuli orang, ikut campur urusan orang-orang yang bukan urusanku, hingga dalam persoalan jual-beli. Aku membela orang yang menyenangkanku meskipun dia berbuat jahat.”
“Suatu hari aku sedang berjalan di pasar, tiba-tiba aku bertemu dua lelaki yang sedang bersengketa mengenai suatu perkara. Satu pihak membeli barang, sedangkan satu pihak lain menjual barang dan bersikeras mematok harga tertentu pada barang tersebut. Sedangkan si pembeli bahkan hampir saja aku memukulnya dengan tongkat aku andai tidak ada sesuatu yang tidak aku ketahui menghalangi aku. Kemudian aku termenung memandangi si pembeli tersebut, dan aku baru menyadari ternyata dia seorang yang rambutnya telah beruban. Dari raut mukanya tersirat bahwa dia orang yang baik. Dia mengisyaratkan kepadaku dengan tangannya agar aku diam terlebih dahulu sebelum menjatuhkan putusan. Dia menjelaskan letak perselisihan antara dirinya dengan si penjual.”
“Seumur-umur, baru kali inilah aku mau mendengarkan pengaduan seseorang. Dia menutup pembicaraannya dengan mengatakan bahwa dia pernah mendengar hadis dari junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda mengenai hal ini, ‘Apabila salah seorang di antara kalain pergi ke pasar lalu dia membeli sesuatu yang dapat menggembirakan anak-anak perempuannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat kepadanya.’ Kemudian dia melanjutkan, ‘Aku baru datang dari suatu perjalanan. Sebelum sampai rumah, aku ingin membeli oleh-oleh untuk menggembirakan ketiga putriku agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang kepadaku.”
Cerita lelaki tersebut membekas di hatiku. Kemudian aku pun membelikan barang-barang yang diinginkannya dan kuberikan padanya. Aku baru meninggalkan orang tersebut setelah meminta kepadanya agar anak-anak perempuannya mau mendoakanku.”
“Meski telah berlalu beberapa hari, cerita lelaki tersebut masih saja terngiang di telingaku, hingga suatu saat aku melihat seorang gadis (budak) yang sangat cantik yang dijual di pasar. Aku jatuh hati padanya, aku mencintainya. Kubeli dia untuk kubebaskan kemudian kunikahi dan hidup bahagia dengannya selama beberapa waktu. Dia telah melupakan masa laluku yang kelabu. Aku mulai hidup istiqamah terutama pada saat kami telah dikaruniai anak perempuan yang cantik. Akan tetapi, setelah berlalu beberapa hari sejak kelahiran anakku, istriku meninggal dunia. Dia meninggalkan anak kami dalam keadaan yatim. Setelah itu, selama dua tahun aku hidup dalam keadaan tidak beristri. Perhatianku hanyalah mengurus anak perempuanku yang merupakan segala-galanya bagi di dunia ini.”
“Pada suatu hari, ketika aku pulang kerja, aku mendapati putriku sedang sakit. Dengan segera kucarikan obat untuknya, bahkan dari sekian banyak dokter. Akan tetapi, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih cepat. Putriku telah tiada, meninggalkan aku seorang diri. Aku pun mendekapnya erat di dadaku sembari berharap agar dia hidup kembali. Tubuh putriku kuyup karena deraian air mataku. Aku memanggil-manggilnya dengan penuh lara disertai hati yang risau. Aku pun memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’alakemudian aku menguburkan putri tunggalku.”
“Namun, setelah itu aku mendatangi kedai minuman keras sebagai tempat pelarian dari apa yang telah menimpa diri dan hidupku. Akhirnya aku kembali menenggak khamar dan menjadi pemabuk berat. Aku ingin melupakan kesedihan dalam kehidupanku. Meskipun aku menyadari apa yang terjadi, akan tetapi aku masih merasakan betapa berat musibahku dan kesendirianku.”
“Kekejaman dan kekerasanku terhadap orang-orang kambuh lagi. Seolah-olah aku ingin balas dendam kepada mereka, dan seakan-akan merekalah yang merampas istri, putri, dan kebahagianku. Suatu hari aku sedang berkeliling pasar. Kemudian aku melihat perempuan yang sedang membawa sedikit makanan, lalu aku merampasnya dengan paksa. Aku pun tidak menghiraukan tangisan dan jeritannya, bahkan ratapan anaknya yang masih kecil.”
“Malam itu aku pulang ke rumah lebih awal dan malam itu adalah malam nisfu Sya’ban. Ketika aku tertidur pulas, aku bermimpi bahwa kiamat telah datang, sangkakala telah ditiup, dan semua makhluk dikumpulkan jadi satu, termasuk juga diriku. Kemudian aku mendengar suara yang mengerikan dan menakutkan.”
“Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba seekor ular besar berwarna hitam kebiru-biruan yang membuka mulutnya, percikan api pun berhamburan dari matanya. Ular itu pun menyerangku. Lalu aku lari karena takut padanya sehingga aku berjumpa dengan orang tua yang lemah.’
“Aku memanggilnya, ‘Tolonglah aku! Selamatkanlah aku dari ular ini! Semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala juga menyelamatkanmu.”
“Tetapi, dia justru menangis di hadapanku dan mengeluhkan kelemahannya.”
“Dia berkata, ‘Cepatlah! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari ular tersebut.”
“Kemudian aku berlari semakin kencang hingga aku naik ke puncak, tepi, dan ujung kiamat. Aku naik di atas tingkat neraka, dan hampir saja aku terjatuh ke dalamnya lantaran ketakutanku, sedangkan ular besar tersebut memburu di belakangku.”
“Tiba-tiba ada orang berteriak, ‘Kembalilah! Kamu bukan penduduk neraka.”
“Lalu aku kembali mencari pertolongan, sedangkan ular besar mencariku. Aku kembali mendatangi orang tua tersebut. Aku terus memohon belas kasihan kepadanya untuk kali kedua. Dia pun mengeluhkan ketidakmampuannya menghadapi binatang liar yang menakutkan itu.”
“Kemudian dia berkata, ‘Berjalanlah ke gunung itu, karena di dalamnya terdapat beberapa titipan kaum muslimin. Jika engkau mempunyai titipan di sana, maka dia akan menolongmu.”
“Lalu aku memandang sebuah gunung yang bersinar dan terbuat dari perak. Di tempat tersebut juga terlihat tabir-tabir yang tergantung di atas tiap-tiap tempat yang diberi daun pintu dari emas merah yang berkilau. Di atas tiap-tiap daun pintu terdapat tabir dari sutera yang keindahannya menyilaukan mata. Aku pun bergegas menuju tempat tersebut sedangkan ular besar tadi masih membuntuti di belakangku.”
“Ketika aku telah mendekat dengan tempat tersebut, sebagian malaikat berteriak, ‘Angkatlah tabir-tabir dan bukalah pintu-pintu’.”
“Kemudian aku melihat anak-anak kecil bak rembulan. Sedangkan ular besar mendekat kepadaku. Aku bingung menghadapi masalah ini. Lantas sebagian anak-anak kecil berteriak, ‘Celaka kamu! Naiklah kalian semua. Sungguh, musuhnya telah dekat dengannya.”
“Mereka pun berdatangan secara bergiliran. Tiba-tiba aku melihat putriku yang telah meninggal dunia. Dia melihatku seraya menangis dan berkata, ‘Ayahku, demi Allah.’
“Kemudian aku melompat bagaikan melesatnya anak panah ke dalam piringan neraca dari cahaya sehingga dia berada di sisiku. Tangan kirinya diulurkan ke tangan kananku dan aku bergantung padanya. Sedangkan tangan kanannya dibentangkan ke arah ular besar, maka si ular pun lari terbirit-birit. Dia mendudukkanku. Sungguh, aku telah mengalami kelelahan dan kecapekan. Aku mendekapnya dan mengecupnya. Air mata membasahi mataku seakan-akan aku khawatir kehilangannya lagi. Aku menarik tangannya ke janggutku dan aku ajak dia bergurau. Kedua matanya yang indah memandangku dengan pandangan kasih sayang dan cinta tulus. Dia berkata kepadaku, “Wahai ayahku!
Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka).” (QS. Al-Hadid: 16)
Tatkala aku mendengar ayat ini, aku menangis. Tidak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya.”
“Aku berkata kepadanya, ‘Kalian mengetahui Alquran?’”
“Dia menjawab, ‘Kami lebih tahu tentang Alquran daripada engkau.”
“Aku melanjutkan, ‘Jelaskan kepadaku tentang ular yang hendak membinasakanku.’ ‘Ular tersebut adalah amal burukmu yang keji yang engkau kokohkan sendiri. Dia berbalik menyerangmu dan menginginkanmu masuk ke dalam neraka,’ jawabnya.”
“Aku bertanya lagi, ‘Sedangkan kakek tua tersebut siapa?’”
“Dia menjawab, ‘Itu amal baikmu, dan engkau sendirilah yang melemahkannya hingga dia tidak mampu menolongmu.”
“Aku berkata, ‘Wahai anakku! Apa yang kalian lakukan di gunung ini?”
“Dia menjawab, ‘Anak-anak kaum muslimin berdiam di sini sampai hari kiamat datang. Kami menanti kalian datang dan kami memberi syafaat untuk kalian.”
“Tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku. Keringat mengucur membasahiku bagai hujan lebat yang menenggeamkanku. Aku meraih tongkatku, lalu aku hancurkan alat-alat musik dan botol-botol minuman keras. Hati nuraniku terpanggil untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Setelah itu, hingga berhari-hari aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Aku tidak mampu bergerak. Dalam keadaan seperti ini, aku memohon ampun kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, dan memohon rahmat-Nya. Aku bertekad untuk memurnikan niat menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Pada hari-hari pertama taubatku, aku beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladisertai rasa takut yang luar biasa. Sebab, dalam sebagian besar waktu, aku selalu membayangkan sosok ular besar ada di hadapan aku dan hendak memangsaku.’
“Dalam kondisi yang sarat akan kekhawatiran dan ketakutan, aku pun membatasi diri dari banyak orang. Kebetulan ketika itu kami semua sedang mengalami paceklik, karena tidak pernah turun hujan, maka kami mulai memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang ketika itu, tidak pernah turun hujan, sehingga tanaman menjadi kering, dan kami mengalami kehasuan.”
“Pada suatu hari ketika orang-orang telah pergi dan tinggal aku sendirian yang tertinggal di mushalla, aku berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berkulit hitam yang kecil kedua betisnya dan buncit perutnya. Setelah memasuki musholla dia melaksanakan shalat dua rekaat. Kemudian dia menengadahkan kepala ke langit seraya berkata, ‘Rabbku, sampai berapa banyak Engkau menolak hamba-hamba-Mu meminta sesuatu yang tidak dapat mengurangi apa yang ada di sisi-Mu. Aku bersumpah kepada-Mu berkat cinta-Mu kepadaku agar Engkau memberi siraman hujan kepadaku sekarang.”
“Hampir-hampir dia belum selesai berdoa, langit pun menurunkan hujan bagaikan mulut sumur. Ketika lelaki tersebut hendak beranjak, segera aku menghampirinya dan berkata, ‘Apa kamu tidak malu mengatakan, ‘berkat cinta-Mu kepadaku.’ Apa kamu tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintaimu?’”
“Dia menjawab, ‘Wahai orang yang menyibukkan diri dengan diri sendiri dan melalaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Di manakah aku pada saat Allah Subhanahu wa Ta’alamenjadikan hanya aku sendiri yang mengesakan-Nya. Tidak ada yang lain. Dia tidak melakukan hal itu melainkan cinta-Nya kepadaku. Bukankah engkau tahu bahwa Allah Maha Luas ampunan dan besar cinta-Nya kepada para hamba-Nya. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah berikut:
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)
Lalu dia meninggalkanku dalam keadaan bingung. Dan semenjak hari itu, aku benar-benar menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa dihantui ketakutan terhadap ular besar.”
Malik bin Dinar terdiam sejenak. Kemudian dia berkata dengan tegas dan khusyu’,
“Jamaah sekalian! Sungguh, Allah Maha Penyayang. Bergembiralah kalian dengan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sampaikanlah kabar gembira ini kepada orang-orang. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kalian. Seandainya kalian mengetahuinya, pastilah kalian tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Apakah kalian mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai manusia? Jika demikian, ketahuilah bahwa tanda-tanda cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah selalu berdzikir kepada-Nya secara kontinyu. Sebab, orang yang cinta sesuatu, pastilah dia sering menyebut-nyebutnya. Barangsiapa tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh ilmunya dangkal dan sia-sialah umrnya. Bertaubatlah kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, wahai hamba-hamba Allah!”
Imam Malik bin Dinar berdiri dan orang-orang pun ikut bangkit berdiri serta mengulang-ulang taubat yang sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hari tersebut dijadikan “hari orang-orang bertaubat.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
Artikel www.KisahMuslim.com
READ MORE - Kisah Islam: Akhirnya Hidayah Itu Datang Kepadaku
Template oleh Blog SEO Ricky - Support eva fashion store